Kamis, 30 Juni 2011

Diary Part ~ 3

Akhirnya aku lakuin juga. Berat banget untuk ngambil keputusan itu, tapi kalau gak di coba aku gak akan tau hasilnya. Ya, aku tau ini keputusan yang jahat banget memang. Abis aku bingung harus gimana lagi. Udah jelas rasa sayang aku tuh buat orang lain, tapi aku malah pacaran sama dia. Hmmmmmmmmmmmmmmmmhhhh..

Aku tau konsekuensi yang harus aku terima kalau balikan lagi sama dia. Udah gak usah di tebak lagi, dia pasti gak akan semudah itu ngelepas aku kayak dulu lagi. Aku yakin, dengan sekuat tenaga dia bakal terus mempertahankan aku gimanapun caranya, karena dia bilang kalau dia gak mau kehilangan aku lagi apapun alasannya. Dan akhirnya, aku harus ngelupain orang itu. Orang yang sampai detik ini masih aku sayang. Tapi itu sia - sia aja. Mustahil bagi aku untuk bisa jadi pacarnya. Karena dari awal memang udah gak mungkin. Terus sekarang aku harus gimana?

Alasan aku terima dia lagi tuh supaya aku bisa lupa sama orang itu! Tapi nyatanya gimana bisa lupa kalau ternyata aku masih sayang orang itu? Aku masih terus mikirin orang itu! Cuma liat fotonya aja udah buat aku senyum. Bisa ngobrol sama orang itu aja rasanya udah seneng banget! Sedangkan sama dia? Aku ngobrol atau ketemu sama dia tuh bener - bener udah gak ada feel sama sekali. Sebenernya aku lagi ngapain sih? Terus kenapa aku balikan sama dia? Aku ini bodoh ya?
 
 

Rabu, 29 Juni 2011

I'm sorry, I can't be your best friend

Siapa sih di dunia ini yang mau hidup di dalam kesendirian? Semua orang pasti ingin mempunyai banyak teman. Aku rasa tidak ada seorangpun yang tidak senang kalau punya sahabat. Sebagaimana yang kita tau, manusia adalah makhluk sosial yang tak lepas dari bantuan orang lain.

Ceritaku kali ini bukan semata - mata aku sudah memiliki banyak sahabat, lalu dengan sombongnya aku tidak mau bersahabat dengannya. Keputusanku ini tentu memiliki alasan. Alasan yang sudah sangat jelas tidak ingin aku ingkari lagi. Karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sudah kubuat dulu. Sebenarnya itu bukanlah kesalahan yang harus di besar-besarkan. Ini hanya menyangkut tentang prinsip yang ku pegang.

Setiap orang memiliki prinsip yang berbeda dalam hidup mereka. Dan sudah pasti bagi mereka yang berprinsip, maka mereka akan mempertahankan apa yang sudah menjadi keputusan mereka. Aku pun mempunyai prinsip dalam persahabatan. Prinsipku dalam bersahabat adalah saling percaya satu sama lain, selalu terbuka dan bersikap jujur, saling mengerti keadaan sahabat, mau berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan yang kita punya, dan tidak boleh ada "cinta" di antara sahabat. Tapi ternyata aku telah melanggarnya. Ya, salah satu prinsip itu dulu ku langgar.

"Cinta". Tidak boleh ada "cinta" di dalam persahabatan. Itu lah yang ku langgar. Banyak orang bilang, persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu mustahil. Jarang ada yang berhasil mempertahankannya tanpa ada rasa "cinta". Dulu pikirku mereka salah, tapi ternyata aku lah yang salah. Hal itu terjadi padaku. Aku berpacaran dengan sahabatku, William namanya. Tentu aku sadar bahwa aku telah melanggar prinsipku sendiri.

Aku dan William bertahan selama 3tahun 2bulan. Setelah itu kami berpisah. Benar kata orang, kalau dulunya kita bersahabat, lalu kita berpacaran, maka saat kita putus kita tidak akan bisa kembali menjadi sahabat. Ya, itu memang benar. Terlalu sulit mengubah status kami menjadi sahabat seperti dulu lagi. Entah mengapa kadang itu terasa menyakitkan.

Sekitar bulan september lalu aku mengenal seorang laki-laki. Namanya Rivan. Dia orang yang sangat menyenangkan, pintar, bertanggung jawab dan sopan. Awalnya aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan aku sering mngacuhkannya. Tapi entah mengapa, lama-kelamaan rasa itu semakin lama berubah. Dari rasa mengagumi menjadi cinta. Aku menyukainya, dan ia pun menyukaiku. Kami memang saling menyukai satu sama lain, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ada satu alasan mengapa kami tidak bisa melanjutkan perasaan ini.

Kami tau ini memang mustahil. Berpura-pura tidak tau pun tidak mungkin. Akhirnya aku mengalah dan mundur. Aku tidak mau merasakan sakit lebih dari ini. Mungkin aku pikir menjauh dari Rivan akan lebih baik. Aku berusaha keras melupakannya. Tapi itu sia-sia. Aku memang benar-benar menyukainya. Dan aku rasa baru kali ini aku mempunyai rasa ingin memiliki seperti ini. Baru kali ini pula aku merasa sangat sakit. Kenapa rasa ini baru aku rasakan sekarang? Kenapa rasa ini tidak ada saat dulu aku berpacaran dengan William?

Lama kami tidak saling menguhubungi. Sebenarnya rivan pernah mengirim sms, tapi aku tidak pernah membalas pesannya. Aku tau, seharusnya aku tidak perlu berbuat seperti itu. Sekarang aku sadar kalau itu tak ada gunanya karena sampai detik ini pun aku masih menyukainya. Jadi aku putuskan mengirim pesan padanya. Tidak lama kami mengobrol, mungkin hanya satu jam.

Tentu saja rivan bertanya, kemana saja aku selama ini? Ya, itu adalah pertanyaan yang wajar mengingat apa yang sudah ku lakukan. Senang rasanya bisa mengobrol bersamanya lagi. Dan sebelum aku mengirim pesan terakhir, Rivan memintaku untuk menjadi sahabatnya. Aku bingung. Apa yang sebaiknya ku katakan? Lalu aku bilang, "Maaf, aku tidak bisa menjadi sahabatmu Rivan"
"Kenapa tidak? Kamu membenciku?" tanyanya.
"Bukan, bukan begitu maksudku"
"Lalu kenapa? Akan lebih baik kalau kita bersahabat kan?"
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Itu akan membuatku semakin sakit"
"Kenapa? Apa aku telah berbuat kesalahan? tolong beritahu aku"
"Tidak apa-apa. Itu tidak penting bagimu"
"Itu penting bagiku. Beritahu aku."
"Sudahlah. Yang jelas aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu."
"Itu bukan masalah. Jadi sahabat yang buruk pun tidak apa-apa."

Aku terlalu bingung untuk membalas pesannya. Tau kah kau? Kalau aku bukanlah orang yang pantas kau jadikan sahabat. Aku tidak bisa memberitahukan alasanku yang sebenarnya padamu. Tapi kalau kau baca cerita ini, aku harap kau tau alasanku. Aku tidak ingin melanggar prinsipku lagi. Aku tidak bisa bersahabat dengan seseorang kalau aku memiliki rasa yang lebih padanya. Maafkan aku. Aku harap kau mau mengerti.


Sabtu, 18 Juni 2011

Diary Part ~ 2

Aku tau mungkin ini salah. Tapi aku emang ga bisa lagi bilang "Nggak". Kamu dateng dan terus memohon sama aku. Kamu bahkan berlutut di hadapan aku. Awalnya aku emang bersikeras untuk tetep ga nerima kamu. Biar gimanapun, aku udah ga punya rasa apapun lagi untuk kamu. Kamu udah sering banget nyakitin aku. Kamu juga udah ngecewain aku banget. Walau cuma dalam waktu yang relatif singkat kamu ngejalin hubungan sama dia, tapi itu cukup ngebuat aku terpukul. Dan kehilangan semua sisa cinta yang ada untuk kamu.

Sekarang kamu dateng dan ngingetin aku lagi sama semua kenangan kita selama ini. 3tahun bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan sebuah hubungan. Aku sadar itu. Terus aku pikir, aku harus bilang "Iya". Tapi ga tau kenapa, saat itu juga aku netesin airmata. Rasanya ada yang salah. Ga nyaman banget! Kenapa tiba-tiba rasanya sakit??! Aku ngerasa kyak ngekhianatin hati aku sendiri. Aku udah ngebohongin perasaan aku sendiri. Padahal udah jelas-jelas rasa cinta aku ini bukan untuk kamu.

Aku ga bisa berhenti nangis. Kamu juga bingung ngeliat aku kyak gini. Berkali-kali kamu coba buat aku berhenti nangis. Tapi itu ga berhasil. Kamu ga tau apa yang ada di hati aku. Jujur aja, rasanya bener-bener sakit. Aku ga tega ngeliat kamu memohon. Aku tau kamu butuh aku. Tapi aku juga ga bisa bohong. Aku udah ga sayang lagi sama kamu. Tadinya aku bingung harus jawab apa. Akhirnya, aku putusin untuk ngorbanin perasaan aku. Aku pilih untuk nerima kamu lagi. Aku nangis di depan kamu. Mungkin kamu sadar aku nerima kamu dengan sangat berat hati.

Kamu janji sama aku, kalau kamu ga akan ngulangin hal yang sama kyak dulu. Kamu juga janji ga akan ngekang atau ngatur-ngatur aku lagi. Tapi bukan itu yang aku harapin. Aku masih terus berpikir kalau ini salah. Kamu nyium pipi aku sambil bilang, "Aku sayang kamu". Aku tau kamu sayang aku, tapi aku ga. Aku bingung banget harus gimana. Aku cuma bisa senyum sambil netesin airmata. Maafin aku.


Jumat, 10 Juni 2011

Diary Part ~ 1

Waktu aku tau dia udah punya pacar, aku sakit hati. Aku ga tau harus percaya atau ga. Tapi kalau itu bener, rasanya sakit banget karena aku tau itu dari orang lain yang aku ga suka. Mungkin aku lebih bisa nerima kalau dia sendiri yang bilang ke aku.

Aku belum yakin kalau dia udah punya pacar. Aku pengen nanya sama dia. Tapi aku takut. Aku takut ga siap denger jawaban "iya" dari dia. Tapi kalau cuma denger dari orang lain rasanya masih ga percaya. Ugh! Ga bisa aku bayangin kalau ternyata itu bener. Aku harus gimana? Nangis ga berhenti-berhenti sambil guling-guling?


Aku ga nyesel ketemu dia. Yang aku sesalin, kenapa aku ga bisa ngontrol perasaan aku? Aku jadi cengeng. Uring-uringan ga jelas. Aku ngerasa semua hal yang aku lakuin serba salah. Aku benci ga bisa ngontrol emosi. Sebentar ketawa, sebentar lagi nangis. Kenapa gini jadinya?

Tau ga? Aku ngerasa bodoh banget! Amat sangat payah! Selama ini aku ngapain sih? Aku bener-bener kayak orang bodoh. Aku ga tau malu banget! Udah jelas dari awal dia emang ga bisa aku milikin, tapi kenapa aku masih terus berharap? Padahal ada orang lain yang udah jelas-jelas sayang aku, tapi aku gak bisa nerima hatinya. Bener kata sahabat aku, hati ga akan bisa bohong. Lagi pula kalau aku terima hati dia, aku jahat! kasian dia. Karena sebenernya hati aku suka sama orang lain. 

"It's not a fairy tale"

Dulu kita memang bersama. Aku bahagia bisa bersamamu. Rasanya memang tak ada lagi yang kubutuhkan selain dirimu. Aku selalu mempercayaimu. Karena kupikir itulah kunci untuk mempertahankan sebuah hubungan yang sedang kita jalin.

Tapi di balik sebuah kepercayaan, ada sebuah pengkhianatan. Suatu hari aku keluar bersama teman lamaku. Kami saling bercerita. Dan ku dapatkan cerita tentangmu. Dia begitu meyakinkan. Entahlah aku harus mempercayainya atau mempercayaimu. Dan akhirnya aku memilih untuk lebih mempercayaimu.

Sampai suatu malam kau memberiku kejutan yang tak pernah ku sangka akan begini jadinya. Aku berjalan ke arah rumahmu malam itu. Saat aku tepat berada di depan pagar rumahmu, di situlah aku melihatmu sedang berciuman dengan perempuan lain. Kau terkejut melihatku yang sedang berdiri di depan pagar rumahmu. Dan aku sadar, apa yang dikatakan temanku itu memang benar. Aku berlari meninggalkanmu bersama dengannya begitu saja.

Kau memohon maaf padaku. Dan kau mengakui semua kesalahanmu. Berkali-kali kau datang ke rumahku, namun tak pernah ku bukakan pintu untukmu. Kau pun mengirim ucapan maafmu di sms dan terus berusaha meneleponku. Aku rasa kau memang benar-benar sangat menyesal. Akhirnya ku angkat telepon darimu. Kau nampak begitu lega aku mau mengangkatnya.
Dan kau bilang, "Maafkan aku. Aku sangat menyesal. Yang ku inginkan hanya kamu. Apakah kamu mencintaiku?"
Aku jawab, "Ya"
Lalu kau bertanya, "Bisakah kau memberiku kesempatan lagi?"
Aku sempat ragu menjawabnya. Sulit sekali untuk mengatakannya. Tapi akhirnya aku menjawab, "Tidak"
Lalu aku tutup telepon darimu. Aku menangis dan terus menangis. Aku takut akan menyesali keputusanku. Kau tau betapa sakitnya aku?

Aku memiliki banyak mimpi tentang dirimu dan aku. Awal kita menjalin cinta kupikir ini akan menjadi akhir yang bahagia seperti di dongeng-dongeng yang aku dambakan. Tapi sekarang aku tau, aku bukanlah seorang putri. Dan ini bukanlah dongeng. Kenyataannya ini adalah dunia yang sangat besar, dan aku berada di suatu kota yang sangat kecil. Aku menjadi seorang pemimpi sebelum kau pergi dan membuatku terjatuh. Sekarang sudah terlambat untukmu dan kuda putihmu datang kembali padaku. Karena suatu hari nanti aku akan mencari seseorang yang akan mencintaiku dan menjagaku dengan baik.



Sabtu, 04 Juni 2011

"Aku Mirip Ayah"

Dulu, waktu aku masih kecil hingga SMA... Aku pernah minder dengan wajahku yang seperti ini... Sebenarnya aku tidak jelek... Memang tidak begitu cantik, tapi bisa dikatakan manis... Yang jadi masalah adalah karena aku mirip dengan ayahku... Dan entah mengapa aku tidak merasa senang... Aku ingin mirip ibu dibanding mirip dengan ayah... Mungkin karena aku tidak suka dengan keluarga ayah... Kadang ibu sering menyamakanku dengan mereka... Jujur saja aku sangat tidak suka! Aku sering berharap agar wajahku bisa berubah dan mirip ibu... Walau aku tau, tentu saja itu mustahil...

Tapi sekarang semua pikiran itu berubah... Tentu saja aku punya alasannya... Ayah meninggal saat aku masih di bangku SMA... Tak ada lagi sosok ayah disini... Ia harus pergi untuk selamanya setelah berjuang melawan penyakitnya yang memang sudah sangat parah... Penyakit jantung... Semakin hari aku semakin menyadari... Bahwa wajah ayah yang dulu setiap hari dapat ku pandang, sekarang tidak lagi... Aku rindu sosok ayah... Aku ingin melihat raut wajah ayah ketika ia marah, ia tersenyum, ia tertawa, bahkan saat ia terlelap...

Kata Ibu aku mirip sekali dengan ayah
Aku sadar, semua itu sudah tak akan mungkin terjadi... Aku hanya bisa memandangi wajahnya di foto... Dan ia tak akan bisa merubah raut wajahnya disana... Aku ingat dulu ibu sering berkata bahwa aku adalah ayah versi perempuan... Dulu aku memang tidak suka dengan ucapan ibu... Tapi sekarang tidak... Diantara kami bertiga, aku, abang, dan adikku, memang akulah yang sangat mirip dengan ayah... Aku tau ibu sangat merindukan ayah... Berkali-kali ibu bilang, wajahku mengingatkannya pada ayah... Ibu senang karena aku mirip dengan ayah... Baginya, aku adalah warisan yang membuatnya tak akan bisa melupakan ayah setiap melihat wajahku... Bahkan, ibu menggunakan fotoku sebagai wallpaper di HPnya... Dari rasa minder yang dulu ku rasakan, kini berubah menjadi rasa bangga... Meski wajahku tak bisa secantik ibu, tapi aku memiliki wajah yang bisa membuat ibu merasa lebih baik bila rindu pada ayah...

Thank you daddy :*

Jumat, 03 Juni 2011

"Sejuta Pesona Alam"

Pejamkan kedua matamu
Dengarkan alunan melodi alam ini
Rentangkan kedua tanganmu
Dan rasakan sejenak hembusan angin disini

Bayangkan betapa indahnya dunia
Dengarkan dan rasakan pesonanya
Karena kau takkan menemukannya
Saat kau harus membuka mata

Desiran pasir di pinggir pantai
Kicauan burung bernyanyi
Ribuan rintik hujan yang menari
Dan warna-warna indah pelangi

Perlahan menghilang meninggalkan sejuta pesona
Tak dapat kau dengar dan kau rasakan lagi
Dimanakah suara merdu alam ini?
Akankah kita dapatkan meski kita membuka mata?


"Katakanlah"
















Kau tau rasa yang ada di dalam hatiku
Tak kau pungkiri kau pun memiliki rasa yang sama
Namun mengapa begitu lama kau katakan padaku
Tak bisakah kita coba tuk jalan bersama


Kau tau betapa aku menyayangimu
Meskipun sering kau mengacuhkanku
Aku tetap bertahan menunggumu
Haruskah ku ucapkan bahwa kau sungguh berarti untukku


Katakanlah bila rasaku ini salah
Jangan kau diam membisu dan membuatku ragu
Katakanlah bila rasaku ini salah
Maka aku akan berhenti menuggumu

"Just Wanna Be With You"

Disuatu malam yang penuh bintang
Ku pandangi manis senyummu
Namun perlahan kau menghilang
Meninggalkanku di kesendirian yang membisu


Meski telah ku mencoba mengejarmu
Kau tak akan pernah kembali
Sekuat apapun aku menahanmu
Tetap tak bisa merubah yang terjadi


Seiring waktu yang terus berjalan
Akhirnya ku sadari tak ada lagi dirimu kini
Menatap langit senja yang dulu penuh arti
Membuatku semakin mengerti bahwa kau lah yang ku butuhkan

Rabu, 01 Juni 2011
















Bersabar walau tau akan marah...
Tersenyum walau tau akan menangis...
Berlari walau tau akan jatuh...
Mencintai walau tau akan sakit...
Mencoba walau tau akan gagal...
Meski begitu, semua itu akan segera berlalu...
Jangan pernah takut dengan keputusan yang akan kita ambil...
Tetap tegakkan kepalamu, dan kita akan menjalani hidup yang baru...
Saat kamu menyukai seseorang dan ia menyakitimu, maka kamu akan marah dan tidak akan mau lagi berbicara dengannya..
Tapi jika kamu menyayangi seseorang dan ia menyakitimu, maka kamu akan menangis karenanya..
Dan jika kamu mencintai seseorang dan ia menyakitimu maka kamu akan tersenyum walau itu pahit dan berkata, 
"dia hanya belum tahu apa yg dia lakukan"

"Don't Steal Him From Me"

Ini kisahku. Aku akan membagikannya denga kalian. Sedikit tidak menarik memang, tapi inilah kenyataannya. Namaku Amanda, aku hanyalah seorang gadis biasa. Meskipun tidak kaya, tapi aku punya banyak teman. Aku punya dua saudara laki-laki. Orang tua ku hanya tinggal satu. Ayahku meninggal saat aku masih di bangku SMA kelas 2. Ia meninggal karena memiliki penyakit jantung. Saat itu terjadi memang sangat mengejutkan. Ya, kematian memang selalu terjadi secara tiba-tiba dan mengagetkan kita. Kini sudah 2 tahun lamanya ayah pergi. Dan ia tak akan mungkin kembali pada kami. Bagi kami saat ini adalah bagaimana melanjutkan kehidupan kami yang masih belum berakhir. Aku tidak akan terlalu detail menceritakan tentang keluargaku pada kalian, karena mungkin itu akan membuat kalian bosan dan jenuh membacanya.

Singkat saja, aku memiliki seorang sahabat yang sangat ku sayang dan ku percaya. Kami saling mengenal saat masih duduk di bangku SMP kelas 1. Meski kami bukan teman satu kelas, tapi kami adalah teman satu jemputan. Dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Polos, ceria, dan baik hati. Berbagi rahasia, bebagi kegembiraan, dan berbagi kesedihan sering kami lakukan. Bagiku, dia sudah ku anggap sebagai saudara perempuanku sendiri. Tidur bersama, makan bersama, nonton bersama, menghabiskan waktu bersama, bahkan mandi pun bersama. Aku selalu terbuka padanya. Dan dia pun begitu padaku. Semua hal tentangnya aku tau. Semua tentangku pun dia tau. Tujuh tahun bersama bukanlah waktu yang singkat untuk dapat saling mngetahui pribadi satu sama lain.

Aku sangat menyayanginya bagaikan saudara kandungku sendiri. Aku sangat mempercayainya. Dan hubungan kami selalu terjalin dengan sangat baik. Kami tidak pernah bertengkar sekalipun. Karena memang tak ada hal yang harus diributkan. Ku pikir kami bisa terus berada di sekolah yang sama setelah lulus dari bangku SMP. Ternyata aku salah. Kami berpisah setelah lulus. Tapi namanya juga sahabat, tidak mungkin hanya karena berbeda sekolah kami menjadi bukan sahabat lagi. Dia memilih melanjutkan di sekolah kejuruan, karena rencananya dia mau segera bekerja.Lain denganku yang memilih melanjutkan ke SMA, karena saat itu aku berpikir akan kuliah. Jadwal kami tidak sama, itu sedikit menyulitkan kami untuk menghabiskan waktu bersama seperti saat masih SMP dulu. Belum lagi kegiatan ekskul yang ku ambil. Itu banyak sekali menyita waktuku. Mulai dari OSIS, PASKIBRA, dan Padus. Hampir setiap hari aku pulang sore. Bahkan tidak jarang juga aku pulang hingga malam hari. Tapi masih ada hari minggu. Jadi hari itulah yang kami gunakan untuk bertemu. Tidak terlalu banyak hal yang bisa kita lakukan. Selain kondisi lelah karena semua kegiatan di sekolah, besoknya pun sudah hari senin. Jadi kami hanya sekedar menghabiskan waktu di mall. Kami butuh refreshing juga kan, hahaha. Hobby kami sama. Kami suka nonton bioskop, cuci mata ke toko-toko baju (walau hanya melihat-lihat), dan makan!

Awalnya ku pikir memiliki sahabat sepertinya sudah cukup. Tapi ternyata itu tidak benar. Entahlah bagaimana aku mengatakannya, yang jelas akhirnya aku memiliki pacar di bangku SMA. Sebenarnya laki-laki itu adalah teman kelasku. Dari awal aku masuk di bangku SMA, aku sudah dekat dengannya. Dia orang yang sangat menyenangkan, sopan, rajin, dan tampan! Banyak yang ingin jadi pacarnya. Tapi bukan aku. Saat itu aku benar-benar tidak tertarik untuk berpacaran. Bukan karena dilarang oleh orang tua, hanya saja aku lebih suka dengan keadaanku saat itu. Jadi ku anggap dia sebagai sahabatku. Sayangnya dia tidak mau hanya ku anggap sebagai sahabat. Tanggal 7 oktober 2007 dia menyatakan cintanya padaku. Senang memang. Tapi aku bingung bagaimana menjawabnya. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Dia pun tau hal itu. Jadi kuputuskan untuk menolaknya. Saat itu dia menerimanya dengan lapang dada. Tapi dia bilang padaku kalau dia tidak akan menyerah untuk mengubah perasaanku padanya. Selama 2 bulan itu ia selalu memperhatikanku. Ia selalu berusaha mencuri perhatianku. Tanggal 4 desember 2007 ia kembali menyatakan perasaannya padaku. Ku pikir tak ada salahnya memberinya kesempatan. Akhirnya aku menerima cintanya (jujur saja itu hanya karena kasihan). Ini pertama kalinya aku memiliki pacar. Tentu saja orang tuaku tau hal ini. Begitupun sahabatku. Hubungan kami terus berlanjut sampai naik ke kelas 2. Namun karena suatu hal, ia dan keluarganya harus pindah ke Magelang. Sebulan setelah pulang dari study tour kami ke Bali ia pindah. Tanggal 28 februari 2008 adalah hari yang sangat menyakitkan bagiku. Saat itu rasanya tak ada lagi semangat dalam diriku. Namun kami tetap berusaha menjaga hubungan ini. Long distance, begitulah orang menyebutnya. Satu tahun sudah ia disana. Akhirnya kami lulus SMA di sekolah kami masing-masing. Sesuai janjinya waktu itu, ia akan pindah lagi ke bandung setelah lulus SMA.

Dan inilah kisahnya. Sekarang kami sudah kembali bersama. Rasa senang dan haru sangat ku rasakan. Dunia terasa sangat indah saat itu. Setelah lulus SMA kami memiliki banyak waktu bersama, begitupula dengan sahabatku. Kami bisa sering bertemu kembali. Seharusnya aku kuliah, tapi karena perasaanku yang masih ragu-ragu membuatku terlalu lama berpikir dan kehabisan waktu untuk mendaftar di salah satu universitas. Dan akhirnya ku putuskan untuk mengambilnya tahun depan. Sedangkan sahabat dan pacarku memutuskan untuk bekerja. Mereka di sibukkan oleh pekerjaannya masing-masing dan hanya sedikit punya waktu untukku. Mau bagaimana lagi, aku harus mengerti keadaan mereka. Aku yang memiliki banyak waktu luang merasa sangat bosan! Apalagi, semakin hari William semakin sibuk dan tak punya waktu untukku. Ia seolah melupakanku. Belum lagi sifatnya yang kini berubah! Mungkin karena pengaruh pergaulannya di tempat kerja dia menjadi sangat menyebalkan! Aku kecewa dengan perubahan sifatnya yang menjadi sangat berbeda. Mungkin salahku juga yang saat itu sedang dekat dengan seorang laki-laki bernama Rivan. Entahlah siapa yang salah. Yang jelas aku merasa sangat tidak nyaman lagi bersama William. Saat itu Rivanlah yang mampu mencuri perhatianku. Aku mengagumi sosoknya. Dia adalah laki-laki yang sopan, lembut, perhatian, dewasa, bertanggung jawab, dan manis. Mungkin karena rasa kecewaku pada William lah yang membuatku berpikir bahwa Rivan adalah laki-laki yang sempurna.

Bermula dari obrolan kami di status facebook. Lalu obrolan di message facebook. Berlanjut ke sms dan telepon. Akhirnya kami menjadi teman. Dia mahasiswa di salah satu universitas yang berada di bandung. Selain itu dia juga seorang penyiar dan operator radio. Selama ini kami belum pernah bertemu satu sama lain. Rasa penasaran dalam diri kami semakin menjadi. Akhirnya dalam satu kesempatan, hari jumat sore setelah aku pulang dari les vokal, aku pergi menemuinya di studio radio yang berada di dago. Ini pertama kalinya kami bertemu. Oh, Tuhan! Dia manis sekali! Senyumnya sungguh memuat jantungku berdebar-debar! Ingin sekali mencubit pipinya, tapi tak ku lakukan. Setelah kami bertemu, akhirnya hubungan kami menjadi semakin dekat. Tadinya aku hanya sekedar mengaguminya, tapi sepertinya rasa itu sudah hilang dan berganti menjadi cinta. Tuhan, aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku tau, saat ini aku masih memiliki William sebagai pacarku. Tapi jujur saja, perasaanku untuk William kini menghilang. Seringkali ku acuhkan dirinya. Aku lebih sering memikirkan Rivan. Hanya ada Rivan saat itu. Semua tentang Rivan dan Rivan. Tapi Rivan dan aku tak akan bisa bersama, karena ternyata kami masih ada hubungan darah dari silsilah keluarga. Aku tau, seharusnya tak perlu ku katakan bagaimana perasaanku padanya. Namun aku tak mampu memendam rasa ini. Semakin ku pendam, semakin sakit rasanya. Saat itu ku putuskan untuk mengatakannya, dan melupakannya.

Setelah mengatakan yang sesungguhnya, perasaan ini semakin tak menentu. Hatiku semakin tak karuan. Tiap jam, menit, detik aku selalu memikirkannya. Ini sangat mengganggu. Aku butuh seseorang yang bisa membuatku tenang dan melupakannya untuk sementara waktu. Dan saat itu Athisa lah yang menemaniku. Ia selalu mendengar smua ceritaku tentang Rivan. Ia tau semua bagaimana perasaanku. Bahkan aku mengajaknya untuk bertemu dengan Rivan agar Athisa tau mengapa aku sangat menyukai Rivan. Tanggal 24 desember 2010 Rivan membuatku terkejut dengan kata-katanya. Tak dapat ku percaya, ternyata benar apa yang Athisa katakan. Rivan sangat menyukaiku. Tapi Rivan tau kalau ia tak dapat memilikiku. Kami putuskan untuk terus berteman. Aku, Athisa dan Rivan menjadi sangat dekat. Aku senang kami bisa sangat akrab. Sedikit pun tak ada rasa curiga dan cemburu meski ku tau mereka sering berkirim sms. Tapi satu yang tak dapat ku terima dan ku sangka. Rivan menjeput Athisa pulang kerja. Dan mereka pergi ke suatu tempat makan di daerah cimbeuluit . Apa yang terjadi? Kenapa mereka pergi kesana bersama tanpa aku? Baru aku tau. Ternyata Athisa pun menyukai Rivan. Bagaimana mungkin Athisa bisa menyukainya? Sejak kapan? Kenapa ia tega melakukan itu padaku? Athisa tau bagaimana perasaanku terhadap Rivan. Jadi apa yang dia lakukan sekarang? Apa ia mencoba mengkhianatiku? Tolong jangan rebut dia dariku. Berjuta pertanyaan terlontar di kepalaku. Sakit. Benar-banar sakit hati ini. Dan sakit ini semakin menjadi setelah ku tau bahwa Rivan pun menyukai Athisa. Ya Tuhan, kenapa bisa begini?

Sejak aku dan Athisa bersahabat, belum pernah kami bermasalah. Tapi kali ini aku rasa kami sedang mengalami masalah itu. Meski aku tak bisa terima, meski hatiku sakit, tapi aku tak bisa marah pada Athisa. Biar bagaimanapun Athisa memiliki hak untuk perasaanya, begitupun dengan Rivan. Aku tak bisa menyalahkan mereka berdua. Sakit memang. Tapi apa yang bisa ku perbuat? Rivan bukan siapa-siapaku,dan aku pun masih bersama William. Butuh waktu 3 hari untuk aku berpikir. Dan dalam waktu 3 hari itulah aku mengambil keputusan untuk melupakan Rivan selamanya. Ku pikir ini adalah cara yang terbaik. Hubunganku dengan Athisa tetap baik, meski terkadang muncul sedikit rasa kecewa terhadapnya. Aku harap semua akan segera kembali seperti semula. Masalah ini membuatku sangat terganggu. Dan aku tak bisa menahan tangis. Aku masih tak bisa berpikir jernih. William yang tak bisa mengerti keadaanku saat itu membuatku marah. Biasanya William tak pernah semarah itu. Tapi ternyata aku salah. William marah dan berkata tak mau lagi bertemu denganku. Saat itu aku tidak tau harus bagaimana. Persaanku kacau! Benar-benar kacau! Tanggal 14 februari 2011 yang seharusnya menjadi hari penuh cinta, kini menjadi hari putus cinta untukku. Akhirnya aku dan William putus setelah 3 tahun 2 bulan bersama. Kau tau bagaimana persaanku saat ini? Sungguh sangat menyakitkan. Aku kecewa dengan sahabatku, aku jadi semakin menjauh dari orang yang ku suka, dan aku berpisah dengan William. Apa kau pikir ini tidak menyakitkan untukku?


END//

I always Need You...



  Namaku Hana, saat ini aku baru mau memasuki bangku kuliah. Karena aku lulusan tahun ini. Ada banyak kisah yang ingin ku ceritakan saat aku masih berada di bangku SMA. Salah satunya tetang Hiroya dan Daisuke. Cerita ini tidak terlalu bagus untuk ku ingat, tapi aku ingin membaginya dengan kalian.

  Kisah ini berawal dari aku pertama masuk ke bangku SMA. Seperti yang kau tau, kita mendapatkan suasana baru, teman baru, guru baru, dan kehidupan baru di sekolah. Saat itu lah aku pertama kali mengenal Hiroya dan Daisuke. Entah bagaimana, Hiroya dan aku menjadi sangat dekat. Dia selalu memperhatikanku. Dia juga selalu ada untukku. Sedangkan Daisuke, dia adalah anak yang menarik. Tak ada seorang siswi pun yang tak mengaguminya. Ya.. Termasuk aku. Aku sangat mengagumi Daisuke. Daya tariknya sungguh membuatku terpikat padanya. Namun aku tak pernah bisa mengatakan hal yang sebenarnya kurasakan padanya. Hanya bertepuk sebelah tangan, ya.. Begitulah perasaanku saat itu.
 
     Suatu saat aku merasa sangat terpuruk. Aku membutuhkan seseorang yang bisa membuatku merasa tenang dan membuatku kembali ceria. Bukannya tak ada yang memperhatikanku. Tentu Hiroya lah yang ada di sampingku saat itu. Hiroya adalah seorang yang penuh canda tawa yang menghiburku saat aku sedih. Tapi bukan dia yang kuharapkan saat itu. Aku lebih membutuhkan Daisuke, orang yang sangat ku kagumi. Daisuke itu cerdas, kaya, dan tampan. Bukan Hiroya, meskipun manis dan baik hati, Hiroya hanya sosok sederhana, gak kaya, dan gak begitu cerdas. Bagiku Hiroya bukan untuk dibandingkan dengan Daisuke. Berapa kalipun aku di suruh memilih, jelas Daisuke lah yang ku pilih. Aku memilih orang yang sama sekali nggak mencintaiku. Bodoh memang. Tapi mungkin itulah cinta. Sesuatu yang penuh kebodohan.

     Berapa kalipun Hiroya datang memberikan semangat padaku, tak pernah sedikitpun ku pedulikan. Anehnya, Hiroya selalu ada meski tak ku hiraukan. Dia selalu ada saat aku sedang sedih. Dia selalu menolong di saat aku butuh pertolongan. Yang paling aneh, ketulusan yang Hiroya lakukan itu terus berlangsung selama 3 tahun. Dimulai saat aku pertama menginjak bangku SMA sampai menjelang kelulusan. Aku tak pernah mengerti mengapa ia terus bertahan. Mungkin karena waktu itu aku masih sendiri. Begitu lama Hiroya selalu ada, dan begitu lama pula kekagumanku pada Daisuke semakin menjadi. Tapi akhirnya, memang Hiroya yang harus mengalah. Kekagumanku pada Daisuke terjawab sudah. Akhirnya Daisuke menjadi pacarku.

       Dan saat itu pula aku mendengar kata-kata Hiroya yang terakhir. Dia bilang, "Sampai sini aja aku ada. Selanjutnya aku percaya kamu tak perlu lagi bantuanku. Aku percaya bahwa pasanganmu adalah orang yang paling bisa membuatmu bahagia.Dan satu hal, aku bisa bahagia cukup dengan melihat senyummu saja". Aku tak bisa percaya itu akan menjadi kata-kata Hiroya untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu aku tak pernah melihat Hiroya. Tak pernah ada lagi Hiroya dengan candanya yang selalu membuatku tertawa konyol. Dia meninggalkanku untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan di jalan raya. Hiroya tertabrak mobil saat berusaha menyelamatkan adiknya yang hendak menyebrang.

      Aku sedih bukan main. Kekaguman dan rasa sayangku pada Daisuke lenyap dengan seketika. Aku rindu sosok Hiroya yang selalu menghiburku saat aku sedih. Aku butuh Hiroya yang selalu peduli. Aku ingin Hiroya kembali dengan kata-kata motivasinya. Mungkin dia hanya orang yang sederhana. Tapi kini aku sadar, cuma Hiroya yang benar-benar tulus. Dan hanya Hiroya yang selalu kubutuhkan. Tuhan, bolehkah aku memutar waktu kembali? Karena tanpa Hiroya, aku merasa tidak lengkap. I always need you, Hiroya.



END//
I always Need You...


Namaku Hana, saat ini aku baru mau memasuki bangku kuliah. Karena aku lulusan tahun ini. Ada banyak kisah yang ingin ku ceritakan saat aku masih berada di bangku SMA. Salah satunya tetang Hiroya dan Daisuke. Cerita ini tidak terlalu bagus untuk ku ingat, tapi aku ingin membaginya dengan kalian.
Kisah ini berawal dari aku pertama masuk ke bangku SMA. Seperti yang kau tau, kita mendapatkan suasana baru, teman baru, guru baru, dan kehidupan baru di sekolah. Saat itu lah aku pertama kali mengenal Hiroya dan Daisuke. Entah bagaimana, Hiroya dan aku menjadi sangat dekat. Dia selalu memperhatikanku. Dia juga selalu ada untukku. Sedangkan Daisuke, dia adalah anak yang menarik. Tak ada seorang siswi pun yang tak mengaguminya. Ya.. Termasuk aku. Aku sangat mengagumi Daisuke. Daya tariknya sungguh membuatku terpikat padanya. Namun aku tak pernah bisa mengatakan hal yang sebenarnya kurasakan padanya. Hanya bertepuk sebelah tangan, ya.. Begitulah perasaanku saat itu.
  Suatu saat aku merasa sangat terpuruk. Aku membutuhkan seseorang yang bisa membuatku merasa tenang dan membuatku kembali ceria. Bukannya tak ada yang memperhatikanku. Tentu Hiroya lah yang ada di sampingku saat itu. Hiroya adalah seorang yang penuh canda tawa yang menghiburku saat aku sedih. Tapi bukan dia yang kuharapkan saat itu. Aku lebih membutuhkan Daisuke, orang yang sangat ku kagumi. Daisuke itu cerdas, kaya, dan tampan. Bukan Hiroya, meskipun manis dan baik hati, Hiroya hanya sosok sederhana, gak kaya, dan gak begitu cerdas. Bagiku Hiroya bukan untuk dibandingkan dengan Daisuke. Berapa kalipun aku di suruh memilih, jelas Daisuke lah yang ku pilih. Aku memilih orang yang sama sekali nggak mencintaiku. Bodoh memang. Tapi mungkin itulah cinta. Sesuatu yang penuh kebodohan.
Berapa kalipun Hiroya datang memberikan semangat padaku, tak pernah sedikitpun ku pedulikan. Anehnya, Hiroya selalu ada meski tak ku hiraukan. Dia selalu ada saat aku sedang sedih. Dia selalu menolong di saat aku butuh pertolongan. Yang paling aneh, ketulusan yang Hiroya lakukan itu terus berlangsung selama 3 tahun. Dimulai saat aku pertama menginjak bangku SMA sampai menjelang kelulusan. Aku tak pernah mengerti mengapa ia terus bertahan. Mungkin karena waktu itu aku masih sendiri. Begitu lama Hiroya selalu ada, dan begitu lama pula kekagumanku pada Daisuke semakin menjadi. Tapi akhirnya, memang Hiroya yang harus mengalah. Kekagumanku pada Daisuke terjawab sudah. Akhirnya Daisuke menjadi pacarku.
Dan saat itu pula aku mendengar kata-kata Hiroya yang terakhir. Dia bilang, "Sampai sini aja aku ada. Selanjutnya aku percaya kamu tak perlu lagi bantuanku. Aku percaya bahwa pasanganmu adalah orang yang paling bisa membuatmu bahagia.Dan satu hal, aku bisa bahagia cukup dengan melihat senyummu saja". Aku tak bisa percaya itu akan menjadi kata-kata Hiroya untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu aku tak pernah melihat Hiroya. Tak pernah ada lagi Hiroya dengan candanya yang selalu membuatku tertawa konyol. Dia meninggalkanku untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan di jalan raya. Hiroya tertabrak mobil saat berusaha menyelamatkan adiknya yang hendak menyebrang.
Aku sedih bukan main. Kekaguman dan rasa sayangku pada Daisuke lenyap dengan seketika. Aku rindu sosok Hiroya yang selalu menghiburku saat aku sedih. Aku butuh Hiroya yang selalu peduli. Aku ingin Hiroya kembali dengan kata-kata motivasinya. Mungkin dia hanya orang yang sederhana. Tapi kini aku sadar, cuma Hiroya yang benar-benar tulus. Dan hanya Hiroya yang selalu kubutuhkan. Tuhan, bolehkah aku memutar waktu kembali? Karena tanpa Hiroya, aku merasa tidak lengkap. I always need you, Hiroya.



END//