Kamis, 25 Agustus 2011

"Meskipun Hanya Sesaat"



Menatap cantik parasmu, mendengar indah suaramu, dan menyentuh lembut bibirmu adalah hal terindah yang pernah ku rasakan. Semua sungguh terasa sangat luar biasa. Nyaman saat dekat denganmu, merindu saat jauh darimu. Tertawa saat melihat candamu, menangis saat melihat amarahmu. Tersenyum, tertawa, menagis, dan memaki. Mencinta dan membenci. Perasaan tulus itulah yang ada di dalam hatimu untukku. Kau memberi warna indah di dalam hidupku yang kelabu. Kau pembawa keceriaan di dalam hidupku yang membisu. Dan kau penerang di dalam hidupku yang gelap. Kau begitu sempurna di mataku. Namun apa dayaku, aku tak sanggup menjagamu dengan baik.

Semua mulai terasa kosong saat kau harus pergi. Keceriaan yang dulu hadir di hidupku kini lenyap tak bersisa. Tak ku rasakan lagi hangat peluk tubuhmu. Tak ku dengar lagi canda tawa dirimu. Tak ku lihat lagi senyum manja di wajahmu. Kemana kau bawa pergi hidupku? Kau lah hembus nafasku. Kau lah detak jantungku. Kau lah denyut nadiku. Dan kau lah nyawaku. Kepergianmu membuatku kehilangan arti hidup. Arti hidup yang dulu tlah ku temukan, namun kini harus menghilang. Kemana harus ku temukan dirimu?

Memandang langit malam, menghirup udara pagi, dan berharap pada bintang jatuh. Berjuta tetesan air mata mengalir terurai. Beribu ucapan doaku terucap. Berkali pikiranku pergi jauh berkelana menciptakan lamunan sedih yang tak berujung tiap ku ingat dirimu. Aku selalu menanti akan sebuah jawaban yang tak pasti. Dimanakah dirimu kini berada? Mengapa kau tinggalkan aku seorang diri disini? Bahagiakah kau disana? Mengapa Tuhan harus mengambilmu begitu cepat?

Aku takut. Aku sangat takut saat kehilanganmu. Aku harus merelakanmu walau aku tak mau. Kau pergi begitu saja tanpa membawaku bersamamu. Aku sakit. Aku tertatih. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Kau begitu berharga bagiku. Bukankah dulu kau berjanji untuk selalu bersama diriku. Kemana kah janji yang pernah kau ucap dulu? Tak berarti lagi kah janji itu? Semua kebahagian dan kepedihan yang kau berikan ini tak akan pernah ku lupa selamanya. Meskipun hanya sesaat ku memilikimu.


END//

"Still Loving You"

Namaku Gilang. Aku mempunyai kisah cinta yang tak akan pernah bisa ku lupa. Kejadian ini terjadi sekitar 9 tahun yang lalu. Saat akhirnya ku tau bahwa aku tak akan pernah bisa memilikinya. Awal pertemuanku dengan Viona adalah saat kita duduk di bangku SMA. Kami menjadi teman sekelas di kelas 1. Viona adalah gadis yang sangat menarik. Ia manis, pintar, baik, lembut, dan sopan. Ia selalu membawa keceriaan bagi teman-teman di sekitarnya. Aku mulai tertarik padanya di pertengahan semester kelas 1. Saat itu kami bearada di dalam satu kelompok. Meski di kelas banyak perempuan yang mungkin lebih cantik di banding dia. Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan di banding dia. Dia unik. Aku suka cara ia tersenyum, cara ia berbicara, cara ia bercanda, dan yang paling ku suka adalah cara ia berpikir. Tidak banyak perempuan yang bisa berpikir cerdas seperti dia. Dia berbeda. Dia tidak seperti kebanyakan perempuan lain yang kutemui. Semuanya penuh kelembutan, dia tidak pernah berpikir buruk tentang seseorang. Dia juga selalu mau menjadi problem solver untuk teman-temannya. Dia tidak sombong meski ia selalu mendapat juara 1 dan selalu mengikuti berbagai olimpiade. Dia terlihat sangat sempurna di mataku.

Kesempurnaan itulah yang membuatku ingin memilikinya. Aku mulai memperhatikannya. Dan yang sangat ku tau, dia perempuan yang sulit di dekati oleh laki-laki. Bukan karena sombong atau jutek, tapi karena semua laki-laki yang dekat padanya hanya ia anggap sebagai teman dan tidak lebih. Aku tau mungkin ini akan sulit, karena itu aku harus berusaha. Awalnya aku mendekatinya sebagai teman, lalu aku menjadikannya sebagai sahabat. Hampir 3 bulan kami bersahabat, dan selama itu pula aku memberinya tanda kalau aku menyukainya. Tapi benar, ternyata ia bukan perempuan yang mudah di dapatkan hatinya. Ia sama sekali tidak meresponku. Ia hanya menganggapku benar-benar sebagai sahabatnya. Aku yang tidak ingin lama-lama menjadi sahabatnya, akhirnya aku memberanikan diri untuk menembaknya. Ku pikir ini akan berhasil. Tapi ternyata perkiraanku meleset. Tanpa pikir-pikir panjang, dia langusng menolakku. Aku yang kecewa dengan jawabannya tidak putus asa. Justru aku semakin ingin menjadi pacarnya. Selama 2 bulan aku gencar PDKT dengannya. Dank akhirnya, terbalas sudah perasaanku padanya. Kami pun berpacaran.

Menyenangkan mempunyai seorang kekasih sepertinya. Aku benar-benar tergila-gila padanya. Ia sangat perhatian dan pengertian. Bahkan ia tak pernah sedikitpun marah atau menuntut ini-itu padaku. Ia selalu mau mendengar alasanku sambil tersenyum manis. Pernah aku sedikit iseng padanya, aku ingin melihat ia marah walau hanya sekali, tapi aku tidak berhasil, saat itu dengan lembut ia hanya berkata,

"Tidak masalah, aku tau kamu harus melakukan yang terbaik agar semuanya lancar. Tidak usah pedulikan aku, selesaikan saja urusanmu dulu. Aku akan menunggumu disini. Good luck ya, love you."

Lalu bersama temanku aku meninggalkan dia, saat itu memang ada urusan organisasi yang harus ku selesaikan, tapi sebenarnya tidak selama itu. Aku hanya ingin mengetesnya saja. Aku menyuruhnya menunggu, dan aku berjanji akan mengantarnya pulang ke rumah. Selama 6 jam ia ku biarkan menunggu sendirian di sekolah. Ku pikir ia akan cemberut atau ngambek bahkan marah-marah, tapi ternyata lagi-lagi sambil tersenyum ia bilang,

"Sudah selesai? Kamu nggak cape? Padahal aku bisa pulang sendiri, harusnya kamu nggak usah jemput aku. Lebih baik kamu istirahat, besok kan masih harus sekolah."

Wow! Bagaimana aku tidak terkejut mendengar jawabannya. Sedikitpun ia tidak marah, bahkan ia mengkhawatirkan aku. Padahal dari wajahnya aku tau ia sangat kelelahan menungguku selama itu sendirian. Ya Tuhan, aku menyesal membuatnya begini. Akan ku jaga ia dengan sepenuh hatiku. Aku berjanji untuk tidak menyakitinya. Aku bersyukur memilikinya.

Selama 4 tahun kami berpacaran. Sekarang kami sudah menduduki bangku perkuliahan. Aku mengambil jurusan Grapich Design karena aku suka dengan seni, aku tidak suka hal-hal yang memusingkan. Menurutku seni adalah kesenangan tersendiri. Sedangkan Viona mengambil jurusan Public Relation (PR) karena ia pintar berbicara dan wawasannya sangat luas. Meski berbeda jadwal karena jurusan kami berbeda, tapi kami masih menyempatkan waktu untuk bersama. Aku mungkin bukan seorang yang jenius, tapi aku akui kalau aku kreatif. Dosen pun berkata seperti itu. Lalu di tahun kedua aku mendapatkan kesempatan beasiswa ke Italy atas kekereatifanku. Sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kuliahku di Italy, tapi di lain pihak aku tidak ingin mengambilnya karena aku tidak ingin berpisah dengan Viona. Aku ingin berada di dekatnya. Tapi ia sama sekali tidak melarangku pergi. Justru ia berkata,

"Apapun yang kamu putuskan, aku akan menerimanya dengan senang hati. Karena apapun itu, kamu pasti memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Ini mungkin kesempatanmu untuk menjadi sukses dengan bakat yang kamu punya. Jangan jadikan aku sebagai alasanmu untuk tetap disini."

Aku sempat bingung mengapa Viona tidak melarangku? Selama ini juga ia tidak pernah marah ataupun cemburu padaku. Apa ia punya laki-laki lain? Jujur saja aku sempat mencurigai Viona. Dan seharusnya ku buang jauh-jauh pikiran itu.

Mendekati hari batas keputusan beasiswaku, aku yang sedang jalan-jalan dengan teman-teman di suatu mall tanpa sengaja melihat Viona sedang berduaan masuk ke cafe dengan laki-laki lain. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan laki-laki itu merangkul pundak Viona. Aku kesal melihatnya, aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Rasanya ingin ku pukul wajah laki-laki itu, tapi tidak ku lakukan. Aku hanya pergi ke rumah dosen yang merekomendasikan beasiswaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyetujui beasiswa itu. Aku tau saat itu aku sangat emosi. Aku tidak bisa berpikir jernih, aku hanya bisa berpikir kalau ternyata selama ini benar. Itulah mengapa Viona tidak melarangku pergi dan tidak perah cemburu sedikitpun padaku. Semua karena ia punya laki-laki lain. Entah mengapa aku menjadi seperti seorang anak kecil. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Di kampus pun aku selalu menghindarinya, aku juga sengaja menganti nomorHP ku. Aku tau Viona bingung dengan tingkahku yang seperti ini. Ia berusaha mendekatiku untuk mendapatkan jawaban yang tepat dari tingkahku ini. Tapi aku begitu kekanakan, aku menikmati kekhawatirannya. Bahkan aku sengaja dekat-dekat dengan perempuan lain untuk membuatnya cemburu. Aku tau ini jahat karena dengan begini aku akan sangat menyakiti perasaannya. Hampir sebulan aku tidak berbicara dengannya. Aku begitu keras kepalanya hingga tidak mau mendengar penjelasannya.

Akhirnya hari keberangkatanku tiba. Teman-teman melepas kepergianku dengan mengantarku ke bandara, karena selama 3 tahun aku tidak bisa kembali ke Indonesia. Sebenarnya sih bisa saja, tapi itu akan membuatku belajar selama 4-5 tahun disana, sedangkan aku mengejar program Reguler agar bisa lulus lebih cepat dan langsung bekerja. Diantara teman-temanku, ku lihat Viona pun ada disana. Aku tau sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi sampai detik terakhirpun aku hanya besikap sok cuek di depannya dan menghindarinya. Lalu entah apa yang membuatnya begitu, mungkinkah karena melihat tingkahku yang sangat menyakiti hatinya atau karena aku akan pergi jauh dalam waktu yang lama? Aku melihat Viona tak kuasa meneteskan airmatanya. Aku sempat tersentak kaget dan merasa sangat bersalah padanya. Aku seperti laki-laki bodoh yang sudah menyakiti hati perempuan yang sangat aku cintai selama ini. Selama kami berpacaran, baru kali ini aku melihat dia menangis. Sepertinya yang ku lakukan sudah di luar batas hingga menyakitinya seperti ini. Sambil memikirkan itu rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan memeluknya, tapi saat ku ingat kejadian di cafe itu aku mengurungkan niatku dan pergi begitu saja.

Sesampainya aku di Italy, aku langsung menuju ke asrama dan ke kampus untuk mengurus jadwal perkuliahanku di tempat ini. Selama di perjalanan aku terus berpikir tentang Viona. Aku sayang padanya, tapi aku merasa telah dikhianati olehnya, dan aku tak bisa memaafkannya begitu saja. Kadang aku merasa begitu membencinya, tapi aku juga merasa sangat mencintainya. Sekarang inilah keputusanku, jadi aku akan bersungguh-sungguh disini. Aku harus fokus dengan tujuanku. Aku di beri waktu 2 hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi sebelum aku mulai kuliah. Sebelum aku berkelling untuk melihat-lihat kampus baruku, aku hendak merapihkan pakaianku ke dalam lemari, dan tanpa sengaja aku menemukan sepucuk surat di tasku. Entah surat siapa ini. Setelah ku buka, ternyata ini surat dari Viona. Sejak kapan? Kapan ia memasukan surat ini? Saat di bandara? Bagaimana mungkin, dia bahkan tidak berhasil mendekatiku. Atau dia meminta seseorang menyelipkan ini di tas ku?

Gilang...
Awalnya aku bingung kenapa tiba-tiba tingkah kamu berubah seperti itu? Aku nggak tau kenapa kamu ngejauhin aku. Kamu nggak mau bicara ataupun dengerin aku ngomong. Kamu terus menghindar. Seolah kamu benci sama aku. Aku nggak tau kesalahan apa yang udah aku lakuin sama kamu sampai kamu bisa bersikap dingin sama aku. Kamu bahkan ganti nomorHP. Sebenarnya aku udah tau nomorHP kamu yang baru dari temen, tapi aku sengaja nggak ngehubungin kamu karena aku tau alasan kamu ganti nomorHP tuh karena nggak mau diganggu sama aku. Aku mau kamu sendiri yang ngasih nomorHP kamu ke aku. Jujur aja, aku pengen banget nanya sama kamu "kenapa kamu jadi gini? Apa kamu bosan dengan hubungan kita? Atau kamu punya pacar lain?" Karena aku liat kamu sering jalan sama perempuan. Tapi aku urungin niat aku, aku nggak akan nanya, aku pengen kamu sendiri yang bilang sama aku. Aku selalu nunggu penjelasan dari kamu. Aku nggak mau berpikir macem-macem. Tapi kamu tetep nggak mau bilang dan semakin menjauh. Akhirnya ada salah satu temen kamu yang ngasih tau aku kenapa kamu jadi kayak gini. Malam itu kamu liat aku sama laki-laki. Kamu jadi emosi banget dan memutusin untuk menjauh dari aku dan pergi ke Italy. Saat itu... Kenapa kamu nggak nanya sama aku? Kenapa kamu bisa semarah itu? Gilang, laki-laki itu bukan siapa-siapa. Dia sepupu aku yang dateng dari malang, usianya juga jauh lebih muda dari kita, cuma badannya aja yang tinggi. Lagipula kami nggak pergi berdua, keluarga aku ada di cafe itu juga. Aku sama sekali nggak nyangka kamu bisa semarah itu sama aku. Ini cuma salah paham biasa. Aku sayang kamu. Aku nggak mungkin main sama laki-laki lain. Tapi ternyata kamu belum bisa percaya sama aku seutuhnya. Kalau kamu pengen kita pisah kayak gini nggak masalah kok. Aku bakal berusaha ngertiin keinginan kamu walau kamu udah ngehancurin perasaan aku. Makasih buat tahun-tahun yang menyenangkan selama ini. Maafin kalau selama ini aku banyak nyusahin. Walau kita nggak putus secara baik-baik, tapi aku turut bahagia atas kesuksesan kamu. Semoga kamu berhasil disana.
Viona....

Jadi aku hanya salah paham? Apa yang telah kulakukan? Ya Tuhan, bodohnya aku! Kenapa aku bisa begitu marah? Kenapa aku tidak mempercayai kekasihku sendiri? Maafkan aku Viona. Aku tidak bermaksud melukaimu, tapi itulah yang ku lakukan. Aku terlalu bodoh untuk membuatmu terluka. Meski saat ini aku menangis dan berteriak sekuat tenaga, ini tidak akan merubah apapun. Aku sudah menghapus nomor Viona dari HP ku, aku bahkan tidak bisa mendapatkan nomornya dari teman-teman. Aku menyesal. Sangat menyesal. Aku ingin memutar waktu kembali. Tapi itu mustahil. Aku harus menerima apa yang telah ku lakukan. Aku putus dengan Viona hanya karena kesalah pahaman kecil ini. Memalukan. Ini sungguh konyol! Cinta yang begitu besar musnah begitu saja hanya karena hal seperti itu? Benar-benar tidak masuk akal. Aku tidak bisa memaafkan perbuatanku. Aku tau, pasti Viona sangat menderita. Aku tau hati Viona terluka. Aku bahkan membuatnya menangis. Jangankan usapan airmata, senyuman pun tak ku berikan padanya. Yang ku berikan padanya hanya sesuatu yang tak termaafkan. Aku mencurigainya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Padalah selama ini dia selalu mau mendengar penjelasanku dan mengerti aku. Tapi aku? Apa yang ku lakukan? Kebodohan...

Saat itu aku tau aku tidak bisa berbuat apapun. Aku berniat segera pulang ke Indonesia dengan cara menyelesaikan kuliahku secepat mungkin. Aku akan kembali dan meminta maaf pada Viona, karena ku sadari kalau aku memang sangat mencintainya dan aku menyesal. Sangat menyesal. Entah ia mau memaafkan aku atau tidak, aku akan berusaha. Aku berjanji tidak akan menakitinya untuk yang kedua kalinya. Aku akan mempercayainya. Aku ingin kembali padanya. Sepulang aku dari Italy, aku akan langsung melamarnya. Aku akan membuat surprise untuknya. Aku akan membawa buket mawar merah kesukaannya. Jadi saat ini aku harus fokus agar kuliahku bisa cepat selesai dan mendapatkan pekerjaan. Motivasiku disini adalah Viona. Aku terus memikirkannya. Dan aku berharap dia mau memaafkanku dan menerimaku kembali.

Akhirnya Kuliahku selesai. 3 tahun sudah aku disini. Saatnya aku kembali ke Indonesia. Dan melamar Viona. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Selama ... jam di pesawat, akhirnya aku tiba di bandara soekarnohatta. Saat itu pukul 11 siang aku sudah tiba di jakarta. Tanpa pulang dulu ke rumah, aku naik taxi pergi ke tempat penjual bunga dan ke toko emas. Aku membelikannya 1 buket bunga mawar ukuran besar dan 1 buah cincin emas dengan berlian sebagai tanda cintaku padanya. Meski sudah 3 tahun lebih kami tidak berhubungan, aku harap perasaannya padaku belum berubah. Sama seperti perasaanku padanya. Aku sedikit takut, karena 3 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuat keadaan tetap sama dari sebelumnya. Entah karena aku yang merasa gugup, atau memang aku memiliki bad feeling. Saat tiba di rumahnya, disana terlihat sepi sekali. Apa dia sudah pindah pikirku. Aku suruh taxi menungguku di depan, sementara aku berlari kedepan pintu rumahnya. Ternyata Bi Nani (pembantu Viona) yang membuka pintu.

"Apa kabar bi? Kok sepi? Viona mana?"
"Eeeeeehh, mas Gilang. Loh? Mas g tau to kalau hari ini resepsi pernikahannya mbak Vio?"
"Apa?!! Me..menikah?! Sekarang? Jangan bercanda bi. Sama siapa? Dimana resepsinya?"
"Ya bener lah mas. Menikahnya sama mas David di Eullogia Resort Hotel."
"Oke, makasih bi."

Menikah? Mana mungkin? Bagaimana dengan aku? Kenapa tidak ada yang memberitahukan aku? Langsung saja aku menyuruh taxi pergi kesana. Dan ternyata benar, sebuah resepsi pernikahan sedang berlangsung. David & Viona, tulisan itu terpampang sangat jelas di depan pintu masuk. Aku turun dari taxi, dan melangkah masuk ke dalam untuk memastikan. Saat itu hatiku sangat terguncang dan hancur berkeping-keping. Aku masih berharap kalau ini hanya mimpi. Sampai akhirnya tak dapat ku tahan lagi airmata ini. Aku melihat seorang perempuan manis yang ku kenal itu berbalut baju pengantin berwarna putih dengan memancarkan senyum yang sangat bahagia bersanding dengan laki-laki yang tidak ku kenal di pelaminan. Remuk jantung ini tak bersisa. Aku tak percaya ini sungguh terjadi. Sakitnya aku melihat kau berciuman dengannya di depanku. Kenapa kau tidak memberiku kesempatan? Aku tau dulu aku yang salah karena telah menyakitimu, tapi tak bisa kah ini hanya sebuah mimpi? Aku tak kuasa menahan tangis. Jadi aku keluar dan pergi dari sana. Maaafkan aku tak bisa memberi ucapan selamat padamu. Tapi aku turut bahagia kalau memang inilah kebahagiaanmu. Biarlah aku membawa dan menyimpan rasa cinta ini di hatiku seorang. Walau kau sudah menjadi miliknya, but I STILL LOVING YOU Viona. Lalu setelah tinggal seminggu di Indonesia, aku kembali ke Italy untuk bekerja dan tinggal disana. Dan disinilah aku berada sekarang. Menulis kisah cinta yang tak sempurna sambil memandang foto kita berdua dulu.


END//

"Anastasia"

Namaku Anastasia. Aku lahir di Lampung 13 Mei 1968. Keluargaku bukan berasal dari keluarga berada. Meski ayahku adalah seorang tentara, tapi bisa dibilang kami di tinggal di tempat yang tidak layak. Kami hanya tinggal di asrama kecil, tidak ada ruang tamu, tidak ada dapur, dan tidak ada kamar mandi. Tempat tinggal kami hanyalah sebuah ruangan yang agak memanjang, jadi kami hanya bisa menyekatnya dengan tripleks sebagai pembatas ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Sedangkan kamar mandi, kami harus turun ke bawah. Dimana semua orang berkumpul untuk mengambil air untuk memasak, mandi, dan buang air besar/kecil, kami menyebutnya bak bawah.

Seperti yang ku bilang tadi, ayahku adalah seorang tentara. Tapi ia hanyalah seorang tentara musik. Hanya sebagai tentara berpangkat rendahan. Ia bertugas sebagai pemain trompet. Mungkin ayahku bukan lah sosok ayah yang gagah dan menomer satukan anak. Ayah lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya dan perempuan lain. Meski begitu, ayah cukup bertanggung jawab. Ia mau membanting tulang demi keluarganya. Sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, sekaligus istri dari seorang tentara musik. Ibuku sangat cerewet dan pemarah. Entah itu sifatnya sejak lahir, atau sebagai pelampias karena sifat ayah yang sering bermain perempuan.

13 September 1969, adikku Amelia lahir. Saat itu seingatku ia adalah adik perempuanku yang sangat manis. Aku senang mempunyai saudara perempuan. Begitupun ayah dan ibu. Mereka bahagia, karena kami mendapat satu lagi anggota keluarga baru. Aku tidak begitu ingat dengan detail. Tapi saat usiaku beranjak 3 tahun, tiba-tiba ibu menyerahkanku kepada nenek untuk mengurusku. Entah apa maksud ibu melakukan itu. Apa aku sudah membuat ibu marah karena aku nakal? Apa ibu tidak menginginkan aku? Apa ibu merasa repot karena harus mengurus adikku?

Akhirnya aku dibawa nenek ke tempat tinggalnya di Sekampung, Metro. Aku tinggal bersama dengan kakek dan nenekku disana. Sesekali paman dan bibiku datang berkunjung dan membawa anak mereka untuk menemaniku bermain bersama. Sudah hampir 4 tahun aku dibesarkan oleh kakek-nenek. Dan selama itu pula aku berpisah dengan ayah, ibu, dan adikku. Aku belum pernah melihatmereka lagi. Entah apa yang terjadi, tapi ibu tak kunjung datang untuk melihat atau menjemputku pulang. Apa mereka tak menginginkanku pulang? Padahal selama berpisah dengan mereka aku berusaha tumbuh menjadi anak yang baik dan penurut. Aku selalu bersikap manis pada orang yang lebih tua. Aku juga tidak nakal, meski aku masih kecil dan belum bisa membantu nenek, tapi aku selalu menemani nenek berjualan di pasar. Walau harus berjalan jauh dan berangkat pukul 4 subuh, aku selalu semangat melakukannya demi nenek. Tak jarang aku berangkat dengan mata tertutup dan tersantuk batu.

Waktu semakin lama semakin berlalu. Akhirnya usiaku menginjak 9 tahun. Aku sudah tidak pernah berpikir lagi untuk pulang. Aku ingin tinggal bersama kakek-nenek hingga aku dewasa nanti. Aku selalu rajin berangkat sekolah usai menemani nenek berjualan di pasar. Aku hanya ingin menjadi anak yang pintar dan membuat kakek-nenek bangga padaku. Tapi ternyata keinginanku tidak bisa terwujud karena nenek mengembalikanku pada ibuku. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Senang? Atau sedih? Aku sudah terbiasa tinggal bersama kakek-nenek. Bagaimana dengan adik perempuanku? Apa ia seorang adik perempuan yang manis atau nakal? Mengapa nenek melakukan itu? Apa aku sudah membuat nenek marah dan kecewa? Apa kesalahan yang telah ku perbuat?

Akhirnya aku kembali ke rumah. Aku merasa sangat asing di rumah bersama dengan keluarga yang tak pernah ku temui selama 6 tahun ini. Berulang kali aku menatap langit. Aku ingin kembali ke rumah nenek. Tapi aku tidak tau jalan mana yang harus ku tempuh untuk bisa kembali kesana. Setiap hari aku hanya bisa menangis sambil menatap langit mengingat kakek-nenek. Rasanya aku ingin berlari kesana tidak peduli dengan ayah dan ibu. Keinginan itu semakin hari semakin kuat. Aku tidak ingin tinggal bersama ayah dan ibu. Ibu sering memarahiku, bahkan menyiksaku. Dan kemarahan ibu akan semakin menjadi setiap ibu tau ayah sedang bermain wanita. Aku hanya bisa menangis dan menjerit saat ibu menyiksaku. Tapi anehnya setiap ibu marah, ibu hanya kasar padaku. Ibu tidak pernah bersikap kasar pada Amelia. Ibu sangat menyayanginya dan memanjakannya. Kenapa ibu bersikap seperti itu? Apa ibu tidak sayang padaku?

Aku tumbuh besar seraya waktu berlalu. Aku menginjak bangku SMP, dan SMA. Selama itu pula ibu masih sering menyiksaku. Tak jarang ibu memaki-makiku di depan banyak orang. Meski hanya kesalahan kecil yang ku lakukan, tapi ibu akan membentakku habis-habisan. Pernah aku berpikir kalau aku adalah anak tiri. Karena selama ini hanya aku saja yang diperlakukan kasar. Sedangkan Amelia diperlakukan sangat baik. Tidak jarang aku tidak diberi makan. Bajuku pun sudah kusam dan robek, berbeda dengan Amelia yang sering di belikan baju dan makanan enak. Untungnya Amelia baik padaku. Ia sering memberiku makanan tanpa sepengetahuan ibu. Karena kalau ibu tau, ibu akan memarahiku dan menuduhku mencuri makanan adikku. Amelia juga sering memberi baju. Ibu sempat tau pakaian yang ku kenakan adalah pakaian milik Amelia, tapi ia bilang pada ibu kalau ia tidak suka baju itu, jadi ia meberikan itu padaku, padahal itu hanya alasan saja. Kami memang selalu kompak. Meski ibu sering memarahiku, tapi adikku yang membantuku saat aku kesulitan.

Aku tau kekompakan ini akan berakhir saat salah satu dari kami menikah nanti. Dan itu terbukti. Amelia menikah lebih dulu. Setelah lulus SMA, ia memilih untuk langsung menikah. Sedangkan aku melanjutkan kuliahku S1. Tanpa Amelia di rumah membuat keadaan sangat sepi. Tidak ada lagi orang yang bisa membuatku tertawa saat di rumah. Sifat ibu yang pemarah pun tidak kunjung berubah. Tak jarang aku puasa karena tidak ada makanan apapun di rumah. Sebenarnya bukan tidak mampu membeli, tapi ibu sengaja tidak memberiku makan. Jujur saja, dari dulu aku bingung kenapa ibu tidak suka padaku. Semakin aku besar, ibu semakin menganggapku sebagai musuhnya. Bukankah aneh kalau seorang ibu memperlakukan anaknya sebagai seorang musuh? Apa yang membuat ibu begitu bencinya padaku? Sering kali ibu membanting barang bila aku melakukan kesalahan kecil. Saat ini ibu memang tidak menyiksaku seperti saat aku masih kecil dulu. Sekarang ibu hanya melempar barang dan memaki-maki saja. Tapi tetap saja itu membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku juga ingin segera keluar dari rumah ini. Aku sudah tidak tahan lagi.

Saat perasaan itu semakin berkecamuk di hatiku, aku bertemu dengan Andreas. Kami bertemu pertama kali di bioskop, saat itu aku sedang bekerja paruh waktu sebagai penjual tiket dan Andreas membeli tiket untuk menonton film. Tanpa ku kira, Andreas menungguku pulang kerja. Ia sengaja mengajak berkenalan. Dari situ kami mulai berteman. Kami jarang bertemu, karena Andreas harus pulang pergi ke Magelang menyelesaikan studinya di AKABRI. Namun untuk menyelesaikan tugas akhirnya, Andreas harus berangkat ke Amerika. Tapi sebelum ia berangkat ke Amerika, Andreas melamarku. Aku menerimanya, dan kami menikah terlebih dulu. Setelah kami menikah, ia pergi untuk menyelesaikan studi akhirnya selama satu tahun, sementara aku menyelesaikan skripsi akhirku.

Andreas sudah menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia. Lalu ia menjemputku, dan membawaku untuk tinggal bersama. Setelah menunggu 1 tahun dari pernikahanku dengannya, akhirnya aku menjadi seorang ibu. Aku memiliki 3 anak dari pernikahanku dengan Andreas. Anak kami yang pertama lahir. Kami memberi nama Stefanus Dhito Septheano padanya, ia sangat lucu dan gembul. Matanya sipit seperti mata kakeknya. Selang 1 tahun, anak kami yang kedua lahir. Namanya Stefanie Gladya Dhita Amanda, ia manis sekali dan wajahnya persis sekali dengan ayahnya. Sebenarnya aku berharap anak perempuanku ini memiliki wajah sepertiku, tapi itu bukan masalah. Lalu anak kami yang terakhir seorang laki-laki yang sangat tampan. Matheus Aldo Ryantheano namanya, berbeda dari kakak-kakaknya. Kali ini wajahnya mirip denganku. Beberapa kenangan pahit yang dulu ku alami saat masih kecil membuatku menjadi ibu yang sangat peduli dengan anak-anakku. AKu tidak mau hal yang terjad padaku dulu terulang dan terjadi pada mereka. Aku menyayangi mereka sepenuh hatiku. Akan ku jaga mereka meski harus ku korbankan nyawaku demi mereka.

True Story.......
END//

"Bahagiamu, Bahagiaku Juga"

Namanya Ethelina, ia seorang gadis manis yang sangat baik hati. Meski ia agak pemalu dan agak canggung terhadap laki-laki, tapi ia adalah gadis yang penuh keceriaan. Mungkin Ethelina bukanlah gadis populer di kampusnya. Tapi ia cukup dikenal di fakultasnya karena kebaikannya. Tidak populer bukan berarti tidak memiliki teman atau sahabat. Ethelina mempunyai seorang sahabat bernama Phrisyll. Mereka sudah bersama selama mereka masih berada di bangku kelas 1 SD. Selama itu mereka terus bersahabat dan selalu mengerti satu sama lain. Berbeda dengan Ethelina, Phrisyll adalah gadis populer di kampus mereka. Sifatnya yang mudah bergaul dan energik mungkin membuatnya banyak teman. Selain wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang tinggi langsing, Phrisyll juga seorang gadis yang cerdas. Berbagai olimpiade telah ia ikuti dan ia juarai. Tak sedikit laki-laki yang mengaguminya, dan tak sedikit perempuan yang iri padanya.

Sosok Phrisyll memang lebih dominan di banding Ethelina. Namun di balik itu semua, sebenarnya Phrisyll bisa begitu berkat Ethelina. Ia begitu menyayangi Ethelina seperti saudara perempuannya sendiri. Begitupun Ethelina. Melihat sifat Ethelina yang polos dan pemalu, sudah dapat dipastikan ia jarang bergaul dengan laki-laki. Memang sih ia sulit bergaul dengan laki-laki, tapi bukan berarti tidak ada laki-laki yang membuatnya tertarik. Ya, George namanya. George adalah teman SMA Ethelina, dan Phrisyll juga tentunya. Sudah hampir 5 tahun ini Ethelina memendam perasaannya. Bahkan Ethelina tidak berani memberitahu Phrisyll tentang perasaannya. George adalah seorang pemuda tampan, cerdas dan baik hati. Sebagai seorang atlit basket, tak heran ia terkenal di antara teman-temannya baik di SMA maupun di kampusnya. Selama itu Ethelina baru beberapa kali berbicara padanya. Itupun hanya karena mengurus kepentingan sekolah saat di ruang guru, dan tidak lebih. Ethelina sadar ini tidak akan ada perkembangan jika terus seperti ini. Ia ingin mengenal George lebih dekat. Jadi Ethelina pergi untuk memberitahu Phrisyll.

"Phrisyll, ada hal yang ingin ku sampaikan padamu"
"Benarkah? Apa itu? Aku juga ada", sambil memeluk Ethelina.
"Kalau begitu lebih baik kau dulu yang bilang", Ethelina tersenyum melihat Phrisyll sangat bersemangat.
"Apa tidak apa-apa? Baiklah, tapi sebaiknya kau tidak terkejut mendengarnya. Kau masih ingat George? Teman kita saat di SMA dulu? Aku menyukainya! Dan aku mengajaknya menjadi pasangan dansaku di acara pergelaran nanti. Bagaimana menurutmu? Apa kami akan menjadi pasangan yang cocok?"
"George? Dan kau? Sudah pasti kalian cocok. Haha.. Aku mendukungmu. Tapi sejak kapan kau suka pada George?"
"Saat pertandingan basket sebulan yang lalu. Aku jatuh cinta padanya. Maafkan aku baru ku katakan saat ini. Saat itu aku belum begitu yakin tentang perasaanku. Tapi sekarang aku yakin"
"Begitu.." Ethelina berusaha tersenyum walau saat itu hatinya terguncang.
"Ethelina? Kau kenapa? Apa ada yang salah? Apa yang ingin kau katakan? Apa ada yang tidak beres? Ayo katakan padaku"
"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya akan.. Aku.. Maaf, sepertinya  hari ini kita tidak bisa pulang bersama. Masih ada tugas yang harus ku kerjakan"
"Kau yakin? Aku bisa menunggumu kalau kau mau"
"Tidak Phrisyll. Tidak perlu. Kau pulanglah duluan"

Cinta? Sahabat? Ethelina terus berpikir kalau dirnya bodoh karena merasa sedih. Padahal sahabat dekatnya bahagia karena bisa dekat dengan orang yang ia cintai, meski orang itu adalah orang yang ia cintai juga. Ethelina, Phrisyll, dan George menjadi sangat dekat. Mereka sering bersama. Ethelina harus bisa menyimpan perasaannya rapat-rapat. Ethelina tidak mungkin memberitahukan yang sebenarnya pada Phrisyll, karena sekarang Phrisyll menyukai George juga. Ia merasa egois kalau ia mengatakannya, karena ia berpikir kalau ia akan melukai perasaan sahabatnya itu. Akhirnya Phrisyll dan George berpacaran. Tentu saja Ethelina merasa sedih, tapi di lain sisi Ethelina pun bahagia karena sahabatnya memiliki seorang pacar. Ethelina tidak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa ikut tersenyum dan mengucapkan selamat pada mereka berdua. "Tidak apa-apa, George memang lebih cocok dengan Phrisyll. Aku bahagia bisa melihat mereka bersama. Mungkin memang inilah yang terbaik. Phrisyll, kau harus tau. Bahagiamu, bahagiaku juga", begitu pikir Ethelina.



Phrisyll selalu bercerita tentang George pada Ethelina. Awalnya itu sangat menyakitkan baginya, tapi sekarang tidak. Ethelina sudah bisa menerima dengan tulus hubungan mereka. Phrisyll memang benar-benar mencintai George. Ethelina tau pasti akan hal itu. Semula, semuanya bisa berjalan lancar. Sampai suatu malam diam-diam tanpa sepengetahuan Phrisyll, George datang ke rumah Ethelina dan menyatakan cinta padanya. Tentu saja Ethelina sangat terkejut mendengar ucapan George pada malam itu. Ethelina bingung jawaban apa yang seharusnya ia berikan pada George.

"Ethelina, aku tau kau juga menyukaiku. Dan aku pun begitu. Kau ingat saat kita mengobrol di ruang guru dulu? Saat itu kau tertawa karena aku salah mengisi formulir dan dimarahi pak guru. Entah mengapa aku jatuh cinta padamu. Sejak saat itu aku selalu ingin mengenalmu lebih dekat, tapi aku begitu gugup saat berdekatan denganmu. Padahal selama ini aku tidak pernah besikap seperti itu selain padamu. Aku menyukaimu. Bahkan alasan aku masuk ke Universitas ini hanya karena ingin berada di satu kampus denganmu. Aku senang tiap kali kau menontonku bertanding. Mau kah kau menjadi pacarku?"
"Ta...tapi itu dulu. A..aku tidak bisa George. Bagaimana dengan Phrisyll? Kalian kan pacaran, bukankah kau mencintai Phrisyll?"
"Aku menjadikannya pacar agar aku bisa dekat denganmu. Maafkan aku karena sudah memanfaatkan sahabatmu. Tapi aku tidak ingin ini terus berlanjut. Aku tidak ingin hanya bisa menjadi temanmu dan bermesraan dengan perempuan lain di depan perempuan yang ku sukai"
"Tapi Phrisyll sangat mencintaimu. Aku tidak ingin menyakitinya. Dulu aku memang sangat menyukaimu, tapi tidak untuk saat ini. Aku sudah merelakan kau untuk Phrisyll."
"Lalu bagaimana denganku? Aku masih tetap menyukaimu. Aku akan memutuskan hubunganku dengan Phrisyll malam ini juga"
"George, kau tidak boleh seperti ini. Aku akan sangat membencimu kalau kau berani melukai hatinya"
"Cepat atau lambat, Phrisyll pun akan mengetahuinya. Aku akan memberitahunya pelan-pelan. Jadi tolong pertimbangkan lagi perasaanku ini. Aku ingin menjadi pacarmu Ethelina, sejak dulu. Tidurlah yang nyenyak. Selamat malam"

Membingungkan bukan? Ya, tentu saja Ethelina tidak bisa tidur malam itu. Ia terus berpikir apa yang harus ia katakan pada Phrisyll tentang hal ini. "Aku menyukai George, tapi aku tidak ingin menyakiti Phrisyll. Aku menyayanginya seperti saudaraku sendiri. Aku tidak mungkin mengkhianatinya. Cinta dan Sahabat, mana yang harus ku pilih? Aku mungkin memang yang lebih dulu menyukai George, tapi bukan berarti aku bisa melukai sahabatku", begitu pikir Ethelina. Akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi keduanya. Ethelina tidak bisa melihat wajah Phrisyll karena ia merasa amat jahat padanya. Sedangkan George, Ethelina tidak ingin perasaannya goyah karena ucapan George malam itu. Lama kelamaan Phrisyll merasakan ada yang berbeda dari mereka berdua. Perasaan curiga mulai muncul saat George akhirnya meminta hubungan mereka berakhir. Dan saat itu terjadi, Ethelina masih terus menghindarinya. Phrisyll yang tidak ingin menuduh macam-macam malamnya datang ke rumah Ethelina untuk curhat dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi situasi menjadi buruk saat Phrisyll melihat Ethelina membukakan pintu pagarnya untuk George dan George langsung memeluknya."Apa yang mereka lakukan? Jadi selama ini mereka bermain di belakangku? Bagaimana mungkin Ethelina tega berbuat seperti ini padaku? Mereka berdua brengsek!", pikir Phrisyll sambil menangis. Lalu ia pergi tanpa mendatangi mereka berdua.

PLAK!! Tamparan keras dari Ethelina mendarat di pipi George.
"Apa yang kau lakukan George?"
"Ethelina, aku sudah putus dengan Phrisyll. Sekarang jadilah pacarku"
"Apa? Kau..kau putus dengan Phrisyll? Kapan?"
"Baru saja, sebelum aku pergi kerumahmu. Ethelina, dengar. Aku tidak mencintai Phrisyll. Aku hanya mencintaimu"
"Ba...bagaimana mungkin kau bisa... Alasan apa yang kau berikan pada Phrisyll?"
"Aku bilang padanya kalau selama ini aku tidak mencintainya, aku mencintai perempuan lain"
"Apa katamu?! Kau sungguh keterlaluan George! Kau tau apa yang kau lakukan? Kau melukai sahabatku! Kau benar-benar membuatku membencimu. Aku sangat kecewa padamu. Pulanglah!" BRAK!! Ethelina menutup pintu pagar.
"Ethelina, tu..tunggu Ethelina. Dengarkan aku. Tolong dengarkan aku. Aku mohon buka pagarnya"

Malam itu Ethelina terus mencoba menghubungi Phrisyll, tapi tak ada jawaban. Besoknya Ethelina mencari Phrisyll di kampus. Ia terus mencoba menghubungi Phrisyll sejak semalam, tapi sampai saat ini pun belum ada jawaban. Ethelina sangat menyesal karena sempat menghindari Phrisyll. Ia pikir itu jalan yang terbaik, tapi ternyata itu semakin menyakiti perasaan sahabatnya. Berkali-kali Ethelina mendatangi rumah Phrisyll, tapi tetap tidak ada. Ia merasa sangat jahat pada Phrisyll. Ia tau saat ini pasti Phrisyll sangat menderita. Sudah seminggu lebih Ethelina tidak mendapat kabar apapun dari Phrisyll. Ia sangat khawatir apa yang terjadi padanya. Phrisyll tidak kunjung kuliah, bahkan dia tidak ada di rumahnya. Telpon ke HPnya tidak pernah diangkat, di sms pun tidak di jawab. Sementara itu George masih saja terus berusaha mendekati Ethelina. Namun Ethelina selalu menjauh setiap melihatnya mau mendekat. Karena masih belum mendapatkan kabar dari Phrisyll, akhirnya Ethelina mengirim sms walau ia tau Phrisyl mungkin tidak akan membalasnya, tapi paling tidak Phrisyll membacanya.


"Phrisyll, kita harus bicara. Aku tau mungkin kau membenciku saat ini. Tapi kita harus menyelesaikan masalah ini, aku mohon, jangan bersikap seperti anak kecil. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau sahabatku yang paling berharga. Datanglah ke taman tempat kita dulu sering bermain. Aku akan menunggumu"

Taman itu adalah taman kenangan bagi mereka berdua. Dulu waktu masih SD, mereka sering bermain di taman ini. Taman tempat mereka melepas tawa dan kesedihan bersama selama ini. Sudah 10 jam lamanya Ethelina menunggu Phrisyll di taman itu. Tapi Phrisyll tak kunjung datang. Sekarang sudah jam 1 malam, Ethelina harus segera pulang karena orang tuanya pasti sangat mencemaskannya. Akhirnya Ethelina hanya mengirim pesan suara untuk Phrisyll sebelum ia pulang.


"Aku tau kalau kau sangat membenciku. Itu sebabnya kau tidak mau datang kemari. Bukan hanya hari ini, mungkin selamanya kau tidak mau bertemu lagi denganku. Dan mungkin ini menjadi pesan terakhirku untukmu. Aku tidak yakin kenapa aku berbicara seperti ini, tapi aku rasa aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi. Aku tau, aku telah melukai hatimu. Aku tidak pantas disebut sebagai seorang sahabat yang baik. Maafkan aku Phrisyll, meski kau sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi, tapi bagiku kau akan menjadi sahabatku selamanya".

Dan ternyata benar, itu menjadi pesan terakhir Ethelina untuk Phrisyll sebelum ia meninggal. Ethelina tertabrak mobil saat hendak menyebrang. Kepalanya mengalami banyak pendarahan karena terbentur pinggir trotoar. Nyawanya tidak dapat ditolong. Ia meninggal didalam perjalanan menuju rumah sakit. Sampai hari pemakamannya pun Phrisyll tidak kunjung datang.

"Ethlina, maafkan aku. Selama ini aku sudah berusaha untuk memberitahumu. Tapi kau terus menghindariku. Mungkin kau membenciku karena aku telah melukai sahabatmu. Aku tau ini semua kesalahanku karena membuat kalian berdua menjadi seperti ini. Kau tau kenapa Phrisyll tidak datang menemuimu? Aku yakin Phrisyll pasti ingin datang menemuimu saat itu. Tapi kau harus tau, di malam saat aku memelukmu, di hari aku memutuskan hubunganku dengannya, dia datang untuk curhat padamu, mungkin saat itu Phrisyll melihat aku memelukmu dan dia merasa sangat emosi. Lalu saat perjalanan pulang, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil Phrisyll menabrak pohon yang berada di tikungan tajam. Ia mengalami gegar otak, selama 2 hari koma akhirnya Phrisyll harus meninggal. Keluarganya sengaja tidak memberitahu siapapun, tapi adiknya memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Dan kau tau? Makammu tepat berada di sebelah makam Phrisyll. Kalian memang sahabat sejati. Aku mencintaimu Ethelina. Semoga kau dan Prhisyll bahagia disana"

"Yang Terlupakan"


Aku takut saat - saat ini akan tiba. Entah berapa lama lagi hal ini akan terus berlangsung. Dan entah berapa lama lagi aku masih bisa mengingatmu.  Karena saat ini aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku bertemu denganmu. 1 tahun yang lalu? Ataukah 2 tahun yang lalu? Hanya sedikit sisa kenangan yang ku miliki tentangmu. Meski aku tak mau, tapi kenangan itu semakin lama semakin terkikis. Membuatku lupa akan sosok dirimu. Aku tau cepat atau lambat hal ini akan terjadi padaku. Itu sebabnya aku menulis surat ini untukmu.

Mungkin saat kau membaca suratku ini aku sudah tidak mengingatmu lagi. Setiap aku berpikir bahwa aku akan melupakan dirimu, aku menjadi sangat takut. Aku takut saat aku harus menutup mata di malam hari. Karena setiap aku membuka mataku di pagi hari, sedikit demi sedikit kenangan tentangmu mulai menghilang. Setiap jam, menit, detik, aku berusaha untuk terus memikirkanmu. Begitu takutnya aku, hingga seluruh isi kamarku semua berisi tentangmu. Aku menghiasi dindingku dengan menempelkan foto-fotomu yang ku ambil setiap hari tanpa sepengetahuanmu.

Semua bermula dari hari pertama kita masuk di bangku SMA. Pertama kali aku melihatmu, kau duduk tepat di pinggir jendela. Entah apa yang sedang kau pikirkan, namun wajahmu menunjukan bahwa kau sedang risau. Kau terus menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Seolah jiwamu berada di suatu tempat yang jauh dan membuatmu tidak ingin berada di sini. Satu hal yang membuatku begitu tertarik padamu. Kau jelas bukan seperti anak laki-laki lainnya. kau berbeda. Kau terlihat sangat lembut. Aku memang tidak pernah punya keberanian untuk mengajakmu berbicara. Yang dapat ku lakukan hanya memandangmu dari jauh. Kau bahkan tak pernah menyadari keberadaan diriku.

Kau sangat pandai dalam pelajaran. Bahkan semua guru memujimu. Tak heran banyak orang yang peduli di sekelilingmu. Aku pun begitu, aku peduli padamu. Tapi aku hanya lalat kecil yang tak pantas berada di sekitar kebun bunga. Itu bukan tempat untukku berada. Apa mungkin lalat kecil sepertiku bisa bersanding dengan kupu-kupu yang indah sepertimu?

Suatu hari aku melihatmu di luar sekolah, saat itu kau sedang duduk di perpustakaan kota. Kau tampak serius membaca buku novel misteri karya....... Aku terus memandangimu. Aku bahkan tau kau tertidur setelah membacanya. Tapi aku bingung, mengapa seorang yang jenius sepertimu menyukai novel bertema misteri? Bukankah itu seharusnya buku-buku pengetahuan seperti ensyclopedia? Aku selalu ingin tau tentangmu. Aku mencoba memperhatikanmu. Dan hari ini aku mendapatkan 1 hal lagi yang ku ketahui tentangmu.

Aku sadar diriku yang seperti ini hanya akan membuatku terlihat seperti seorang pengungtit. Sebenarnya aku takut kau akan menghindar bila kau tau apa yang selama ini ku lakukan. Maka aku berniat untuk mengajakmu bicara. Saat itu aku berniat menyapamu pulang sekolah. Kau Kebagian tugas piket di hari itu, jadi ku tunggu kau di depan pintu gerbang sekolah. Mungkin sudah sekitar 30 menit aku berdiri menunggu. Dan dengan tiba - tiba aku terjatuh pingsan. Seseorang segera membawaku ke rumah sakit.

Aku tak sempat menyapamu di hari itu. Karena saat aku terbangun, ternyata aku sudah 3 hari tertidur di rumah sakit. Ibu dan ayah begitu mengkhawatirkanku. Aku sudah boleh pulang ke rumah, meski dokter belum begitu mengetahui jenis penyakitku. Ku pikir hal ini tidak akan terjadi lagi. Tapi aku jadi semakin sering pingsan bila terlalu sering berdiri. Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata dokter memvonis bahwa aku mengidap tumor otak. Kemungkinan terburuk aku bisa meninggal, dan dokter bilang bahwa semakin lama ingatanku tentang seseorang atau sesuatau akan semakin berkurang, bahkan aku bisa hilang ingatan total. Maka aku di anjurkan untuk mengikuti terapis meski dokter tidak bisa menjamin aku akan sembuh.

Mengikuti terapis? Untuk apa kalau memang tidak dapat memastikan aku dapat sembuh kembali? Aku memutuskan untuk tetap bersekolah seperti biasa. Teman-teman sengaja tidak ku beritahukan, hanya guru-guru di sekolah saja yang tau. Saat itu aku benar-benar merasa takut kalau harus melupakanmu. Dan dari situ aku mulai menjadi seperti penguntit. Aku mulai mengambil fotomu diam-diam dengan kameraku. Entah berapa banyak foto yang telah ku ambil.

Hari ini adalah kenaikan kelas. Tidak seperti kelas 1, sekarang kita berbeda kelas. Aku sedikit kecewa, tapi itu tidak membuatku berhenti memperhatikanmu. Namun penyakit ini semakin lama semakin memburuk. Sering kali aku mengeluarkan darah dari hidung. Dan itu cukup lama, sehingga aku mengalami kekurangan darah. Dokter dan orang tuaku menyuruhku untuk mengambil home school, tapi aku tidak mau. Aku bersikeras ingin pergi sekolah, di mana aku bisa memandangmu. Aku tau, mungkin aku tidak bisa mencegah agar aku tidak hilang ingatan. Tapi paling tidak, aku ingin mengabadikan kenangan yang tidak ingin ku lupakan begitu saja.

Namun usahaku tidak cukup berhasil melawan penyakitku ini. Meski sekuat tenaga aku ingin sekolah, tapi aku tidak mampu menggerakan badanku. Aku tidak punya tenaga untuk menggerakannya. Situasi ini membawaku untuk dirawat di rumah sakit. Mungkin sudah 8 bulan lebih aku keluar masuk rumah sakit. Hingga akhirnya aku harus benar - benar dirawat total di rimah sakit. Aku sudah tidak ada pilihan lain. Mungkin saat ini aku memang tidak bisa melihatmu menjadi siswa kelas 3. Tapi selama 2 tahun ini aku mengumpulkan semua foto-fotomu.

Aku hanya bisa memandangimu dari foto. Berharap aku bisa bertemu denganmu. Tapi aku yakin itu tidak akan mungkin terjadi. Karena aku merasa bahwa aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Semua ingatanmu yang tersimpan di otakku mungkin akan terhapus. Tapi ingatanku tentangmu yang ku tulis disini tidak akan terhapus. Kalau saja waktu itu aku punya keberanian, aku ingin sekali mengajakmu berbicara. Meski hanya sekali dan dalam waktu yang singkat. Seandainya saja hari itu aku tidak pingsan. Aku ingin bilang, kalau "AKU SANGAT MENYUKAIMU".


Selasa, 26 Juli 2011

"Jadilah terang"



















Aku selalu ingin mengatakan sesuatu.
Kau.... mungkin akan menyesal dan terduduk di naungan malam.
Memeluk tangan yang dingin dan meneteskan air mata.
Tapi bagaimanapun juga jangan lupa akan dirimu yang berharga.
Majulah ke depan dan jadilah terang.
Kadang.... Kamu harus belajar membuang kesedihan untuk bisa maju.
Belajar menggigit bibir dan menelan air mata terhadap dunia yang kejam, dan dari situ lah akan tiba fajar baru.
Aku hanya mengingat perasaan yang menjalar hari itu.
Mengikuti bunga yang mekar dengan indah di langit malam.
Mengikuti irama waltz yang terdengar dari jauh.
Harusnya kugenggam tangannya dan berdansa dengannya.
Aku kadang berpikir begitu.
Mungkin ini adalah 'Kesombongan'
Aku tidak punya kekuatan atau logika untuk itu.
Untukmembicarakan cinta aku terlalu rasional,
dan untuk membicarakan ideologi aku terlalu realistis.
Aku terlalu kosong untuk berbicara tentang impian.


Dia terang yang paling cemerlang.
Aku kehilangan dia begitu saja...
Harta yang paling berharga di duniaku.
Sungguh semua itu adalah ikatan yan sangat berharga.
Begitu berharganya hingga menjadi ingatanku, kehidupanku, dan cintaku.
Itulah unsur-unsur diriku.
Aku punya nama dan kamu memanggil namaku.
Dan namaku kembali padaku dan menjadi diriku.
Ketika satu per satu mutiara yang bercahaya itu terjatuh,
karena kagetnya aku tidak terpikir untuk memungutnya,
Ingatan bisa dibengkokkan dan masa lalu selalu melimpah dan indah.
Aku tak bisa membayangkan saat kau meneteskan air matamu.
Karena kau selalu tertawa dan bercahaya.

"Kita akan bertemu lagi"

Kita akan bertemu lagi. Melewati terang, di bintang yang seperti madu, di mana langit yang indah mengalir. Dunia adalah hal yang besar. Dan kita adalah kosmos kecil di dalamnya.

Ada dunia yang bernama "Kehidupan sehari-hari", dan sejarah yang bernama "Kenangan" bersama permata-permata kecil bercahaya di situ. Meski kulalui penyesalan dan sekali lagi aku dapat kembali, yang berharga tetaplah berharga.


Yang mengakhiri adalah Dia, yang kembali adalah si bocah, yang tertinggal di celah waktu dan memeluk kenangan adalah aku.

"Meski sakit, kamu bisa menjalani hidup. Karena selama hidup, aku akan ada di sisimu. Aku takkan melepaskanmu. Peganglah tanganku dan terbanglah bersama denganku. Jadi sekarang, meski kita berpisah, meski lupa, kau boleh tidak menangis. Karena waktu akan berlalu dengan cepat. Dan kita akan segera bertemu lagi."

Menjelang kepergianmu aku duduk di taman itu dan menangis. Gemerisik dedaunan terdengar seperti suara hujan saat aku menutup mata. Itu aneh sekali. Dan ketika aku membuka mata, langit dengan cahayanya yang menyilaukan ada di situ.


Kamis, 21 Juli 2011

"Nyawa"

Nyawa itu sangat berharga, seperti baterei yang membuat manusia tetap hidup.
Tapi suatu saat baterei bisa habis, begitu juga nyawa.
Kalau baterei bisa diisi ulang dengan cepat, nyawa tidak bisa semudah itu diisi ulang.

Nyawa adalah karunia Tuhan yang membuat manusia bisa hidup bertahun-tahun lamanya.
Tanpa nyawa, manusia tidak akan bisa hidup.
Tapi ada juga manusia yang menyia-nyiakannya.

Aku sedih melihat orang yang menyia-nyiakan hidupnya.
Padahal seharusnya nyawa digunakan sebaik-baiknya.
Karena itulah, aku mau terus hidup sampai nyawaku ini lelah nanti.

Rabu, 20 Juli 2011

"Maaf, ku harus pergi"

Maaf bila aku membuatmu khawatir...
Jika hilang darimu tanpa kesan dan pesan...
Membuatmu marah, kecewa dan bersedih...
Aku seperti orang bodoh yang lari dari kenyataan...


Jangan khawatir atau merindukanku...
Meski kau menungguku hingga menangis setiap malam...
Maafkan aku, aku tak bisa kembali...


Hatiku pun terasa sakit pergi seperti ini...
Aku tak akan bisa mengatakan semuanya kepadamu...
Aku pun hanya bisa menangis kala hujan, dan tersenyum kala terik...
Sama seperti dirimu, sangat memilukan....


Mungkin ku hanya bisa mengatakan...
S'lamat tinggal kasih...
S'lamat tinggal kenangan...
S'lamat tinggal cinta...





"The dreams"



The dreams I had when I was a child are scribbles that don't fade.
They reveal the feeling with which they were written and are connected on the future that I draw.
Across the sky was only endless blue.
And my innocent heart was throughly charmed.
Soon I obtained wings for freedom with which I could fly.
I turn my eyes towards my desire to go to that distant sky.
From countless wishes, if only one could be granted,
I think anyone would want to seize their dreams and never be made to let go.

The dreams I had when I was a child are scribbles that don't fade.
They continue to be draw forever and are connected to the future I desire.
I heard a ringing note from a far off bell.
And in my honest heart it resounded an echo.
The light transformed into seven colors and painted an arc on the sky.
I turn my eyes towards my desire to go to that distant rainbow.

When wishes come to an end, don't forget the painful things.
There are people who will support you, so you will still be able to see your dreams.

"Remember You"

Sebuah jalinan kasih yang pernah kita lalui tak akan semudah itu dapat ku lupakan. Berjuta kenangan manis dan pahit yang telah kita lalui sering terbesit dipikiranku. Jujur saja, meski aku ingin melupakanmu, aku tak akan pernah bisa melakukannya. Kau memang sudah sangat menyakitiku dan membuatku kecewa. Tapi aku tidak terlalu pintar untuk dapat melupakanmu dan melepasmu. Aku hanya seorang yang bodoh yang hampir di setiap malam mengingatmu. Bahkan merindukan sosokmu yang dulu selalu mendekapku dari belakang. Kebodohan inilah yang hanya menyiksaku dan menyulitkan langkahku.

Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Itu masalahku sekarang. mereka bilang aku harus jatuh cinta lagi untuk dapat melupakanmu. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Bagiku cinta bukanlah sebuah permainan yang sederhana. Cinta adalah hal yang rumit. Kau tidak akan hanya cukup merasa bahagia dan sedih. Kau juga akan merasa sakit, marah, kecewa, putus asa, bahkan kau akan merasa bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kau cintai. Mungkin cinta akan terasa indah bila ada kejujuran dan kesetian. Tapi kata-kata itu terlalu naif untukku. Karena yang ku dapatkan hanyalah kebohongan di balik sebuah kejujuran dan pengkhianatan di balik sebuah kesetiaan.

Dulu aku tak pernah berpikir untuk pergi darimu. masih ingatkah kau dengan janji yang pernah kau ucapkan dulu? Apa bagimu itu hanyalah ucapan yang tak penting sehingga kau dapat dengan mudah mengingkarinya?  Aku sama sekali tidak menyangka akan begini jadinya. Dulu kau begitu bersusah payah untuk mendapatkan cintaku. Tapi lihat sekarang apa yang kau lakukan. Jangankan memberi kabar. Kau bahkan tidak mau mengingatku lagi. Kau seolah membuangku jauh dari hidupmu. Seburuk itukah aku sehingga kau tak ingin mengenalku lagi? Aku hanya bisa tersenyum dan mendukungmu saat kau bilang kau akan melupakanku selamanya dan mencoba untuk mencintai orang lain. Kenapa kau harus mengatakan itu padaku? Aku bahkan sudah tak berarti lagi dimatamu.

Kau mungkin memang cinta pertamaku. Kau adalah orang yang sangat aku cintai dan sayangi. Kau juga orang yang selalu melindungiku. Kau yang memberiku dukungan saat aku terjatuh. Kau senyumku saat aku menangis. Kau sandaranku saat aku lelah. Kau pendengar setiaku saat aku bercerita. Kau... Kau adalah nafas yang begitu berharga bagiku. Tapi itu semua sudah berakhir saat kita berpisah. Aku tak akan menyesali apa yang sudah menjadi keputusanku. Mungkin kau begitu marah dengan keputusanku, sehingga kau ingin melupakanku sampai seperti ini.

Kita sudah lama tidak bertemu. Kau tak pernah mengirim kabar padaku. Kau juga tak pernah membalas pesanku. Kau menghilang begitu saja. Aku bingung bagaimana caraku mencarimu. Aku bahkan tidak tau alamat barumu. Ada hal yang ingin ku katakan. Ini bukan sebuah rasa penyesalan dariku. Tapi aku ingin berterimakasih padamu atas semua kebaikanmu, perhatianmu, dan pengertianmu. Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang lebih baik nantinya. Aku hanya berharap, semoga kau tidak melupakan aku. meski hanya sedetik saja kau mengingatku.


"Remember You"

Sebuah jalinan kasih yang pernah kita lalui tak akan semudah itu dapat ku lupakan. Berjuta kenangan manis dan pahit yang telah kita lalui sering terbesit dipikiranku. Jujur saja, meski aku ingin melupakanmu, aku tak akan pernah bisa melakukannya. Kau memang sudah sangat menyakitiku dan membuatku kecewa. Tapi aku tidak terlalu pintar untuk dapat melupakanmu dan melepasmu. Aku hanya seorang yang bodoh yang hampir di setiap malam mengingatmu. Bahkan merindukan sosokmu yang dulu selalu mendekapku dari belakang. Kebodohan inilah yang hanya menyiksaku dan menyulitkan langkahku.

Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Itu masalahku sekarang. Mereka bilang aku harus jatuh cinta lagi untuk dapat melupakanmu. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Bagiku cinta bukanlah sebuah permainan yang sederhana. Cinta adalah hal yang rumit. Kau tidak akan hanya cukup merasa bahagia dan sedih. Kau juga akan merasa sakit, marah, kecewa, putus asa, bahkan kau akan merasa bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kau cintai. Mungkin cinta akan terasa indah bila ada kejujuran dan kesetian. Tapi kata-kata itu terlalu naif untukku. Karena yang ku dapatkan hanyalah kebohongan di balik sebuah kejujuran dan pengkhianatan di balik sebuah kesetiaan.

Dulu aku tak pernah berpikir untuk pergi darimu. Masih ingatkah kau dengan janji yang pernah kau ucapkan dulu? Apa bagimu itu hanyalah ucapan yang tak penting sehingga kau dapat dengan mudah mengingkarinya?  Aku sama sekali tidak menyangka akan begini jadinya. Dulu kau begitu bersusah payah untuk mendapatkan cintaku. Tapi lihat sekarang apa yang kau lakukan. jangankan memberi kabar. Kau bahkan tidak mau mengingatku lagi. Kau seolah membuangku jauh dari hidupmu. Seburuk itukah aku sehingga kau tak ingin mengenalku lagi? Aku hanya bisa tersenyum dan mendukungmu saat kau bilang kau akan melupakanku selamanya dan mencoba untuk mencintai orang lain. Kenapa kau harus mengatakan itu padaku? Aku bahkan sudah tak berarti lagi dimatamu.

Kau mungkin memang cinta pertamaku. Kau adalah orang yang sangat aku cintai dan sayangi. Kau juga orang yang selalu melindungiku. Kau yang memberiku dukungan saat aku terjatuh. Kau senyumku saat aku menangis. Kau sandaranku saat aku lelah. Kau pendengar setiaku saat aku bercerita. Kau... Kau adalah nafas yang begitu berharga bagiku. Tapi itu semua sudah berakhir saat kita berpisah. Aku tak akan menyesali apa yang sudah menjadi keputusanku. Mungkin kau begitu marah dengan keputusanku, sehingga kau ingin melupakanku sampai seperti ini.

Kita sudah lama tidak bertemu. Kau tak pernah mengirim kabar padaku. Kau juga tak pernah membalas pesanku. Kau menghilang begitu saja. Aku bingung bagaimana caraku mencarimu. Aku bahkan tidak tau alamat barumu. Ada hal yang ingin ku katakan. Ini bukan sebuah rasa penyesalan dariku. Tapi aku ingin berterima kasih padamu atas semua kebaikanmu, perhatianmu, dan pengertianmu. Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang lebih baik nantinya. Aku hanya berharap, semoga kau tidak melupakan aku. Meski hanya sedetik saja kau mengingatku.


Kamis, 30 Juni 2011

Diary Part ~ 3

Akhirnya aku lakuin juga. Berat banget untuk ngambil keputusan itu, tapi kalau gak di coba aku gak akan tau hasilnya. Ya, aku tau ini keputusan yang jahat banget memang. Abis aku bingung harus gimana lagi. Udah jelas rasa sayang aku tuh buat orang lain, tapi aku malah pacaran sama dia. Hmmmmmmmmmmmmmmmmhhhh..

Aku tau konsekuensi yang harus aku terima kalau balikan lagi sama dia. Udah gak usah di tebak lagi, dia pasti gak akan semudah itu ngelepas aku kayak dulu lagi. Aku yakin, dengan sekuat tenaga dia bakal terus mempertahankan aku gimanapun caranya, karena dia bilang kalau dia gak mau kehilangan aku lagi apapun alasannya. Dan akhirnya, aku harus ngelupain orang itu. Orang yang sampai detik ini masih aku sayang. Tapi itu sia - sia aja. Mustahil bagi aku untuk bisa jadi pacarnya. Karena dari awal memang udah gak mungkin. Terus sekarang aku harus gimana?

Alasan aku terima dia lagi tuh supaya aku bisa lupa sama orang itu! Tapi nyatanya gimana bisa lupa kalau ternyata aku masih sayang orang itu? Aku masih terus mikirin orang itu! Cuma liat fotonya aja udah buat aku senyum. Bisa ngobrol sama orang itu aja rasanya udah seneng banget! Sedangkan sama dia? Aku ngobrol atau ketemu sama dia tuh bener - bener udah gak ada feel sama sekali. Sebenernya aku lagi ngapain sih? Terus kenapa aku balikan sama dia? Aku ini bodoh ya?
 
 

Rabu, 29 Juni 2011

I'm sorry, I can't be your best friend

Siapa sih di dunia ini yang mau hidup di dalam kesendirian? Semua orang pasti ingin mempunyai banyak teman. Aku rasa tidak ada seorangpun yang tidak senang kalau punya sahabat. Sebagaimana yang kita tau, manusia adalah makhluk sosial yang tak lepas dari bantuan orang lain.

Ceritaku kali ini bukan semata - mata aku sudah memiliki banyak sahabat, lalu dengan sombongnya aku tidak mau bersahabat dengannya. Keputusanku ini tentu memiliki alasan. Alasan yang sudah sangat jelas tidak ingin aku ingkari lagi. Karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sudah kubuat dulu. Sebenarnya itu bukanlah kesalahan yang harus di besar-besarkan. Ini hanya menyangkut tentang prinsip yang ku pegang.

Setiap orang memiliki prinsip yang berbeda dalam hidup mereka. Dan sudah pasti bagi mereka yang berprinsip, maka mereka akan mempertahankan apa yang sudah menjadi keputusan mereka. Aku pun mempunyai prinsip dalam persahabatan. Prinsipku dalam bersahabat adalah saling percaya satu sama lain, selalu terbuka dan bersikap jujur, saling mengerti keadaan sahabat, mau berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan yang kita punya, dan tidak boleh ada "cinta" di antara sahabat. Tapi ternyata aku telah melanggarnya. Ya, salah satu prinsip itu dulu ku langgar.

"Cinta". Tidak boleh ada "cinta" di dalam persahabatan. Itu lah yang ku langgar. Banyak orang bilang, persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu mustahil. Jarang ada yang berhasil mempertahankannya tanpa ada rasa "cinta". Dulu pikirku mereka salah, tapi ternyata aku lah yang salah. Hal itu terjadi padaku. Aku berpacaran dengan sahabatku, William namanya. Tentu aku sadar bahwa aku telah melanggar prinsipku sendiri.

Aku dan William bertahan selama 3tahun 2bulan. Setelah itu kami berpisah. Benar kata orang, kalau dulunya kita bersahabat, lalu kita berpacaran, maka saat kita putus kita tidak akan bisa kembali menjadi sahabat. Ya, itu memang benar. Terlalu sulit mengubah status kami menjadi sahabat seperti dulu lagi. Entah mengapa kadang itu terasa menyakitkan.

Sekitar bulan september lalu aku mengenal seorang laki-laki. Namanya Rivan. Dia orang yang sangat menyenangkan, pintar, bertanggung jawab dan sopan. Awalnya aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan aku sering mngacuhkannya. Tapi entah mengapa, lama-kelamaan rasa itu semakin lama berubah. Dari rasa mengagumi menjadi cinta. Aku menyukainya, dan ia pun menyukaiku. Kami memang saling menyukai satu sama lain, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ada satu alasan mengapa kami tidak bisa melanjutkan perasaan ini.

Kami tau ini memang mustahil. Berpura-pura tidak tau pun tidak mungkin. Akhirnya aku mengalah dan mundur. Aku tidak mau merasakan sakit lebih dari ini. Mungkin aku pikir menjauh dari Rivan akan lebih baik. Aku berusaha keras melupakannya. Tapi itu sia-sia. Aku memang benar-benar menyukainya. Dan aku rasa baru kali ini aku mempunyai rasa ingin memiliki seperti ini. Baru kali ini pula aku merasa sangat sakit. Kenapa rasa ini baru aku rasakan sekarang? Kenapa rasa ini tidak ada saat dulu aku berpacaran dengan William?

Lama kami tidak saling menguhubungi. Sebenarnya rivan pernah mengirim sms, tapi aku tidak pernah membalas pesannya. Aku tau, seharusnya aku tidak perlu berbuat seperti itu. Sekarang aku sadar kalau itu tak ada gunanya karena sampai detik ini pun aku masih menyukainya. Jadi aku putuskan mengirim pesan padanya. Tidak lama kami mengobrol, mungkin hanya satu jam.

Tentu saja rivan bertanya, kemana saja aku selama ini? Ya, itu adalah pertanyaan yang wajar mengingat apa yang sudah ku lakukan. Senang rasanya bisa mengobrol bersamanya lagi. Dan sebelum aku mengirim pesan terakhir, Rivan memintaku untuk menjadi sahabatnya. Aku bingung. Apa yang sebaiknya ku katakan? Lalu aku bilang, "Maaf, aku tidak bisa menjadi sahabatmu Rivan"
"Kenapa tidak? Kamu membenciku?" tanyanya.
"Bukan, bukan begitu maksudku"
"Lalu kenapa? Akan lebih baik kalau kita bersahabat kan?"
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Itu akan membuatku semakin sakit"
"Kenapa? Apa aku telah berbuat kesalahan? tolong beritahu aku"
"Tidak apa-apa. Itu tidak penting bagimu"
"Itu penting bagiku. Beritahu aku."
"Sudahlah. Yang jelas aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu."
"Itu bukan masalah. Jadi sahabat yang buruk pun tidak apa-apa."

Aku terlalu bingung untuk membalas pesannya. Tau kah kau? Kalau aku bukanlah orang yang pantas kau jadikan sahabat. Aku tidak bisa memberitahukan alasanku yang sebenarnya padamu. Tapi kalau kau baca cerita ini, aku harap kau tau alasanku. Aku tidak ingin melanggar prinsipku lagi. Aku tidak bisa bersahabat dengan seseorang kalau aku memiliki rasa yang lebih padanya. Maafkan aku. Aku harap kau mau mengerti.


Sabtu, 18 Juni 2011

Diary Part ~ 2

Aku tau mungkin ini salah. Tapi aku emang ga bisa lagi bilang "Nggak". Kamu dateng dan terus memohon sama aku. Kamu bahkan berlutut di hadapan aku. Awalnya aku emang bersikeras untuk tetep ga nerima kamu. Biar gimanapun, aku udah ga punya rasa apapun lagi untuk kamu. Kamu udah sering banget nyakitin aku. Kamu juga udah ngecewain aku banget. Walau cuma dalam waktu yang relatif singkat kamu ngejalin hubungan sama dia, tapi itu cukup ngebuat aku terpukul. Dan kehilangan semua sisa cinta yang ada untuk kamu.

Sekarang kamu dateng dan ngingetin aku lagi sama semua kenangan kita selama ini. 3tahun bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan sebuah hubungan. Aku sadar itu. Terus aku pikir, aku harus bilang "Iya". Tapi ga tau kenapa, saat itu juga aku netesin airmata. Rasanya ada yang salah. Ga nyaman banget! Kenapa tiba-tiba rasanya sakit??! Aku ngerasa kyak ngekhianatin hati aku sendiri. Aku udah ngebohongin perasaan aku sendiri. Padahal udah jelas-jelas rasa cinta aku ini bukan untuk kamu.

Aku ga bisa berhenti nangis. Kamu juga bingung ngeliat aku kyak gini. Berkali-kali kamu coba buat aku berhenti nangis. Tapi itu ga berhasil. Kamu ga tau apa yang ada di hati aku. Jujur aja, rasanya bener-bener sakit. Aku ga tega ngeliat kamu memohon. Aku tau kamu butuh aku. Tapi aku juga ga bisa bohong. Aku udah ga sayang lagi sama kamu. Tadinya aku bingung harus jawab apa. Akhirnya, aku putusin untuk ngorbanin perasaan aku. Aku pilih untuk nerima kamu lagi. Aku nangis di depan kamu. Mungkin kamu sadar aku nerima kamu dengan sangat berat hati.

Kamu janji sama aku, kalau kamu ga akan ngulangin hal yang sama kyak dulu. Kamu juga janji ga akan ngekang atau ngatur-ngatur aku lagi. Tapi bukan itu yang aku harapin. Aku masih terus berpikir kalau ini salah. Kamu nyium pipi aku sambil bilang, "Aku sayang kamu". Aku tau kamu sayang aku, tapi aku ga. Aku bingung banget harus gimana. Aku cuma bisa senyum sambil netesin airmata. Maafin aku.


Jumat, 10 Juni 2011

Diary Part ~ 1

Waktu aku tau dia udah punya pacar, aku sakit hati. Aku ga tau harus percaya atau ga. Tapi kalau itu bener, rasanya sakit banget karena aku tau itu dari orang lain yang aku ga suka. Mungkin aku lebih bisa nerima kalau dia sendiri yang bilang ke aku.

Aku belum yakin kalau dia udah punya pacar. Aku pengen nanya sama dia. Tapi aku takut. Aku takut ga siap denger jawaban "iya" dari dia. Tapi kalau cuma denger dari orang lain rasanya masih ga percaya. Ugh! Ga bisa aku bayangin kalau ternyata itu bener. Aku harus gimana? Nangis ga berhenti-berhenti sambil guling-guling?


Aku ga nyesel ketemu dia. Yang aku sesalin, kenapa aku ga bisa ngontrol perasaan aku? Aku jadi cengeng. Uring-uringan ga jelas. Aku ngerasa semua hal yang aku lakuin serba salah. Aku benci ga bisa ngontrol emosi. Sebentar ketawa, sebentar lagi nangis. Kenapa gini jadinya?

Tau ga? Aku ngerasa bodoh banget! Amat sangat payah! Selama ini aku ngapain sih? Aku bener-bener kayak orang bodoh. Aku ga tau malu banget! Udah jelas dari awal dia emang ga bisa aku milikin, tapi kenapa aku masih terus berharap? Padahal ada orang lain yang udah jelas-jelas sayang aku, tapi aku gak bisa nerima hatinya. Bener kata sahabat aku, hati ga akan bisa bohong. Lagi pula kalau aku terima hati dia, aku jahat! kasian dia. Karena sebenernya hati aku suka sama orang lain. 

"It's not a fairy tale"

Dulu kita memang bersama. Aku bahagia bisa bersamamu. Rasanya memang tak ada lagi yang kubutuhkan selain dirimu. Aku selalu mempercayaimu. Karena kupikir itulah kunci untuk mempertahankan sebuah hubungan yang sedang kita jalin.

Tapi di balik sebuah kepercayaan, ada sebuah pengkhianatan. Suatu hari aku keluar bersama teman lamaku. Kami saling bercerita. Dan ku dapatkan cerita tentangmu. Dia begitu meyakinkan. Entahlah aku harus mempercayainya atau mempercayaimu. Dan akhirnya aku memilih untuk lebih mempercayaimu.

Sampai suatu malam kau memberiku kejutan yang tak pernah ku sangka akan begini jadinya. Aku berjalan ke arah rumahmu malam itu. Saat aku tepat berada di depan pagar rumahmu, di situlah aku melihatmu sedang berciuman dengan perempuan lain. Kau terkejut melihatku yang sedang berdiri di depan pagar rumahmu. Dan aku sadar, apa yang dikatakan temanku itu memang benar. Aku berlari meninggalkanmu bersama dengannya begitu saja.

Kau memohon maaf padaku. Dan kau mengakui semua kesalahanmu. Berkali-kali kau datang ke rumahku, namun tak pernah ku bukakan pintu untukmu. Kau pun mengirim ucapan maafmu di sms dan terus berusaha meneleponku. Aku rasa kau memang benar-benar sangat menyesal. Akhirnya ku angkat telepon darimu. Kau nampak begitu lega aku mau mengangkatnya.
Dan kau bilang, "Maafkan aku. Aku sangat menyesal. Yang ku inginkan hanya kamu. Apakah kamu mencintaiku?"
Aku jawab, "Ya"
Lalu kau bertanya, "Bisakah kau memberiku kesempatan lagi?"
Aku sempat ragu menjawabnya. Sulit sekali untuk mengatakannya. Tapi akhirnya aku menjawab, "Tidak"
Lalu aku tutup telepon darimu. Aku menangis dan terus menangis. Aku takut akan menyesali keputusanku. Kau tau betapa sakitnya aku?

Aku memiliki banyak mimpi tentang dirimu dan aku. Awal kita menjalin cinta kupikir ini akan menjadi akhir yang bahagia seperti di dongeng-dongeng yang aku dambakan. Tapi sekarang aku tau, aku bukanlah seorang putri. Dan ini bukanlah dongeng. Kenyataannya ini adalah dunia yang sangat besar, dan aku berada di suatu kota yang sangat kecil. Aku menjadi seorang pemimpi sebelum kau pergi dan membuatku terjatuh. Sekarang sudah terlambat untukmu dan kuda putihmu datang kembali padaku. Karena suatu hari nanti aku akan mencari seseorang yang akan mencintaiku dan menjagaku dengan baik.