Siapa sih di dunia ini yang mau hidup di dalam kesendirian? Semua orang pasti ingin mempunyai banyak teman. Aku rasa tidak ada seorangpun yang tidak senang kalau punya sahabat. Sebagaimana yang kita tau, manusia adalah makhluk sosial yang tak lepas dari bantuan orang lain.
Ceritaku kali ini bukan semata - mata aku sudah memiliki banyak sahabat, lalu dengan sombongnya aku tidak mau bersahabat dengannya. Keputusanku ini tentu memiliki alasan. Alasan yang sudah sangat jelas tidak ingin aku ingkari lagi. Karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sudah kubuat dulu. Sebenarnya itu bukanlah kesalahan yang harus di besar-besarkan. Ini hanya menyangkut tentang prinsip yang ku pegang.
Setiap orang memiliki prinsip yang berbeda dalam hidup mereka. Dan sudah pasti bagi mereka yang berprinsip, maka mereka akan mempertahankan apa yang sudah menjadi keputusan mereka. Aku pun mempunyai prinsip dalam persahabatan. Prinsipku dalam bersahabat adalah saling percaya satu sama lain, selalu terbuka dan bersikap jujur, saling mengerti keadaan sahabat, mau berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan yang kita punya, dan tidak boleh ada "cinta" di antara sahabat. Tapi ternyata aku telah melanggarnya. Ya, salah satu prinsip itu dulu ku langgar.
"Cinta". Tidak boleh ada "cinta" di dalam persahabatan. Itu lah yang ku langgar. Banyak orang bilang, persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu mustahil. Jarang ada yang berhasil mempertahankannya tanpa ada rasa "cinta". Dulu pikirku mereka salah, tapi ternyata aku lah yang salah. Hal itu terjadi padaku. Aku berpacaran dengan sahabatku, William namanya. Tentu aku sadar bahwa aku telah melanggar prinsipku sendiri.
Aku dan William bertahan selama 3tahun 2bulan. Setelah itu kami berpisah. Benar kata orang, kalau dulunya kita bersahabat, lalu kita berpacaran, maka saat kita putus kita tidak akan bisa kembali menjadi sahabat. Ya, itu memang benar. Terlalu sulit mengubah status kami menjadi sahabat seperti dulu lagi. Entah mengapa kadang itu terasa menyakitkan.
Sekitar bulan september lalu aku mengenal seorang laki-laki. Namanya Rivan. Dia orang yang sangat menyenangkan, pintar, bertanggung jawab dan sopan. Awalnya aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan aku sering mngacuhkannya. Tapi entah mengapa, lama-kelamaan rasa itu semakin lama berubah. Dari rasa mengagumi menjadi cinta. Aku menyukainya, dan ia pun menyukaiku. Kami memang saling menyukai satu sama lain, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ada satu alasan mengapa kami tidak bisa melanjutkan perasaan ini.
Kami tau ini memang mustahil. Berpura-pura tidak tau pun tidak mungkin. Akhirnya aku mengalah dan mundur. Aku tidak mau merasakan sakit lebih dari ini. Mungkin aku pikir menjauh dari Rivan akan lebih baik. Aku berusaha keras melupakannya. Tapi itu sia-sia. Aku memang benar-benar menyukainya. Dan aku rasa baru kali ini aku mempunyai rasa ingin memiliki seperti ini. Baru kali ini pula aku merasa sangat sakit. Kenapa rasa ini baru aku rasakan sekarang? Kenapa rasa ini tidak ada saat dulu aku berpacaran dengan William?
Lama kami tidak saling menguhubungi. Sebenarnya rivan pernah mengirim sms, tapi aku tidak pernah membalas pesannya. Aku tau, seharusnya aku tidak perlu berbuat seperti itu. Sekarang aku sadar kalau itu tak ada gunanya karena sampai detik ini pun aku masih menyukainya. Jadi aku putuskan mengirim pesan padanya. Tidak lama kami mengobrol, mungkin hanya satu jam.
Tentu saja rivan bertanya, kemana saja aku selama ini? Ya, itu adalah pertanyaan yang wajar mengingat apa yang sudah ku lakukan. Senang rasanya bisa mengobrol bersamanya lagi. Dan sebelum aku mengirim pesan terakhir, Rivan memintaku untuk menjadi sahabatnya. Aku bingung. Apa yang sebaiknya ku katakan? Lalu aku bilang, "Maaf, aku tidak bisa menjadi sahabatmu Rivan"
"Kenapa tidak? Kamu membenciku?" tanyanya.
"Bukan, bukan begitu maksudku"
"Lalu kenapa? Akan lebih baik kalau kita bersahabat kan?"
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Itu akan membuatku semakin sakit"
"Kenapa? Apa aku telah berbuat kesalahan? tolong beritahu aku"
"Tidak apa-apa. Itu tidak penting bagimu"
"Itu penting bagiku. Beritahu aku."
"Sudahlah. Yang jelas aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu."
"Itu bukan masalah. Jadi sahabat yang buruk pun tidak apa-apa."
Aku terlalu bingung untuk membalas pesannya. Tau kah kau? Kalau aku bukanlah orang yang pantas kau jadikan sahabat. Aku tidak bisa memberitahukan alasanku yang sebenarnya padamu. Tapi kalau kau baca cerita ini, aku harap kau tau alasanku. Aku tidak ingin melanggar prinsipku lagi. Aku tidak bisa bersahabat dengan seseorang kalau aku memiliki rasa yang lebih padanya. Maafkan aku. Aku harap kau mau mengerti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar