Rabu, 01 Juni 2011

"Don't Steal Him From Me"

Ini kisahku. Aku akan membagikannya denga kalian. Sedikit tidak menarik memang, tapi inilah kenyataannya. Namaku Amanda, aku hanyalah seorang gadis biasa. Meskipun tidak kaya, tapi aku punya banyak teman. Aku punya dua saudara laki-laki. Orang tua ku hanya tinggal satu. Ayahku meninggal saat aku masih di bangku SMA kelas 2. Ia meninggal karena memiliki penyakit jantung. Saat itu terjadi memang sangat mengejutkan. Ya, kematian memang selalu terjadi secara tiba-tiba dan mengagetkan kita. Kini sudah 2 tahun lamanya ayah pergi. Dan ia tak akan mungkin kembali pada kami. Bagi kami saat ini adalah bagaimana melanjutkan kehidupan kami yang masih belum berakhir. Aku tidak akan terlalu detail menceritakan tentang keluargaku pada kalian, karena mungkin itu akan membuat kalian bosan dan jenuh membacanya.

Singkat saja, aku memiliki seorang sahabat yang sangat ku sayang dan ku percaya. Kami saling mengenal saat masih duduk di bangku SMP kelas 1. Meski kami bukan teman satu kelas, tapi kami adalah teman satu jemputan. Dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Polos, ceria, dan baik hati. Berbagi rahasia, bebagi kegembiraan, dan berbagi kesedihan sering kami lakukan. Bagiku, dia sudah ku anggap sebagai saudara perempuanku sendiri. Tidur bersama, makan bersama, nonton bersama, menghabiskan waktu bersama, bahkan mandi pun bersama. Aku selalu terbuka padanya. Dan dia pun begitu padaku. Semua hal tentangnya aku tau. Semua tentangku pun dia tau. Tujuh tahun bersama bukanlah waktu yang singkat untuk dapat saling mngetahui pribadi satu sama lain.

Aku sangat menyayanginya bagaikan saudara kandungku sendiri. Aku sangat mempercayainya. Dan hubungan kami selalu terjalin dengan sangat baik. Kami tidak pernah bertengkar sekalipun. Karena memang tak ada hal yang harus diributkan. Ku pikir kami bisa terus berada di sekolah yang sama setelah lulus dari bangku SMP. Ternyata aku salah. Kami berpisah setelah lulus. Tapi namanya juga sahabat, tidak mungkin hanya karena berbeda sekolah kami menjadi bukan sahabat lagi. Dia memilih melanjutkan di sekolah kejuruan, karena rencananya dia mau segera bekerja.Lain denganku yang memilih melanjutkan ke SMA, karena saat itu aku berpikir akan kuliah. Jadwal kami tidak sama, itu sedikit menyulitkan kami untuk menghabiskan waktu bersama seperti saat masih SMP dulu. Belum lagi kegiatan ekskul yang ku ambil. Itu banyak sekali menyita waktuku. Mulai dari OSIS, PASKIBRA, dan Padus. Hampir setiap hari aku pulang sore. Bahkan tidak jarang juga aku pulang hingga malam hari. Tapi masih ada hari minggu. Jadi hari itulah yang kami gunakan untuk bertemu. Tidak terlalu banyak hal yang bisa kita lakukan. Selain kondisi lelah karena semua kegiatan di sekolah, besoknya pun sudah hari senin. Jadi kami hanya sekedar menghabiskan waktu di mall. Kami butuh refreshing juga kan, hahaha. Hobby kami sama. Kami suka nonton bioskop, cuci mata ke toko-toko baju (walau hanya melihat-lihat), dan makan!

Awalnya ku pikir memiliki sahabat sepertinya sudah cukup. Tapi ternyata itu tidak benar. Entahlah bagaimana aku mengatakannya, yang jelas akhirnya aku memiliki pacar di bangku SMA. Sebenarnya laki-laki itu adalah teman kelasku. Dari awal aku masuk di bangku SMA, aku sudah dekat dengannya. Dia orang yang sangat menyenangkan, sopan, rajin, dan tampan! Banyak yang ingin jadi pacarnya. Tapi bukan aku. Saat itu aku benar-benar tidak tertarik untuk berpacaran. Bukan karena dilarang oleh orang tua, hanya saja aku lebih suka dengan keadaanku saat itu. Jadi ku anggap dia sebagai sahabatku. Sayangnya dia tidak mau hanya ku anggap sebagai sahabat. Tanggal 7 oktober 2007 dia menyatakan cintanya padaku. Senang memang. Tapi aku bingung bagaimana menjawabnya. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Dia pun tau hal itu. Jadi kuputuskan untuk menolaknya. Saat itu dia menerimanya dengan lapang dada. Tapi dia bilang padaku kalau dia tidak akan menyerah untuk mengubah perasaanku padanya. Selama 2 bulan itu ia selalu memperhatikanku. Ia selalu berusaha mencuri perhatianku. Tanggal 4 desember 2007 ia kembali menyatakan perasaannya padaku. Ku pikir tak ada salahnya memberinya kesempatan. Akhirnya aku menerima cintanya (jujur saja itu hanya karena kasihan). Ini pertama kalinya aku memiliki pacar. Tentu saja orang tuaku tau hal ini. Begitupun sahabatku. Hubungan kami terus berlanjut sampai naik ke kelas 2. Namun karena suatu hal, ia dan keluarganya harus pindah ke Magelang. Sebulan setelah pulang dari study tour kami ke Bali ia pindah. Tanggal 28 februari 2008 adalah hari yang sangat menyakitkan bagiku. Saat itu rasanya tak ada lagi semangat dalam diriku. Namun kami tetap berusaha menjaga hubungan ini. Long distance, begitulah orang menyebutnya. Satu tahun sudah ia disana. Akhirnya kami lulus SMA di sekolah kami masing-masing. Sesuai janjinya waktu itu, ia akan pindah lagi ke bandung setelah lulus SMA.

Dan inilah kisahnya. Sekarang kami sudah kembali bersama. Rasa senang dan haru sangat ku rasakan. Dunia terasa sangat indah saat itu. Setelah lulus SMA kami memiliki banyak waktu bersama, begitupula dengan sahabatku. Kami bisa sering bertemu kembali. Seharusnya aku kuliah, tapi karena perasaanku yang masih ragu-ragu membuatku terlalu lama berpikir dan kehabisan waktu untuk mendaftar di salah satu universitas. Dan akhirnya ku putuskan untuk mengambilnya tahun depan. Sedangkan sahabat dan pacarku memutuskan untuk bekerja. Mereka di sibukkan oleh pekerjaannya masing-masing dan hanya sedikit punya waktu untukku. Mau bagaimana lagi, aku harus mengerti keadaan mereka. Aku yang memiliki banyak waktu luang merasa sangat bosan! Apalagi, semakin hari William semakin sibuk dan tak punya waktu untukku. Ia seolah melupakanku. Belum lagi sifatnya yang kini berubah! Mungkin karena pengaruh pergaulannya di tempat kerja dia menjadi sangat menyebalkan! Aku kecewa dengan perubahan sifatnya yang menjadi sangat berbeda. Mungkin salahku juga yang saat itu sedang dekat dengan seorang laki-laki bernama Rivan. Entahlah siapa yang salah. Yang jelas aku merasa sangat tidak nyaman lagi bersama William. Saat itu Rivanlah yang mampu mencuri perhatianku. Aku mengagumi sosoknya. Dia adalah laki-laki yang sopan, lembut, perhatian, dewasa, bertanggung jawab, dan manis. Mungkin karena rasa kecewaku pada William lah yang membuatku berpikir bahwa Rivan adalah laki-laki yang sempurna.

Bermula dari obrolan kami di status facebook. Lalu obrolan di message facebook. Berlanjut ke sms dan telepon. Akhirnya kami menjadi teman. Dia mahasiswa di salah satu universitas yang berada di bandung. Selain itu dia juga seorang penyiar dan operator radio. Selama ini kami belum pernah bertemu satu sama lain. Rasa penasaran dalam diri kami semakin menjadi. Akhirnya dalam satu kesempatan, hari jumat sore setelah aku pulang dari les vokal, aku pergi menemuinya di studio radio yang berada di dago. Ini pertama kalinya kami bertemu. Oh, Tuhan! Dia manis sekali! Senyumnya sungguh memuat jantungku berdebar-debar! Ingin sekali mencubit pipinya, tapi tak ku lakukan. Setelah kami bertemu, akhirnya hubungan kami menjadi semakin dekat. Tadinya aku hanya sekedar mengaguminya, tapi sepertinya rasa itu sudah hilang dan berganti menjadi cinta. Tuhan, aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku tau, saat ini aku masih memiliki William sebagai pacarku. Tapi jujur saja, perasaanku untuk William kini menghilang. Seringkali ku acuhkan dirinya. Aku lebih sering memikirkan Rivan. Hanya ada Rivan saat itu. Semua tentang Rivan dan Rivan. Tapi Rivan dan aku tak akan bisa bersama, karena ternyata kami masih ada hubungan darah dari silsilah keluarga. Aku tau, seharusnya tak perlu ku katakan bagaimana perasaanku padanya. Namun aku tak mampu memendam rasa ini. Semakin ku pendam, semakin sakit rasanya. Saat itu ku putuskan untuk mengatakannya, dan melupakannya.

Setelah mengatakan yang sesungguhnya, perasaan ini semakin tak menentu. Hatiku semakin tak karuan. Tiap jam, menit, detik aku selalu memikirkannya. Ini sangat mengganggu. Aku butuh seseorang yang bisa membuatku tenang dan melupakannya untuk sementara waktu. Dan saat itu Athisa lah yang menemaniku. Ia selalu mendengar smua ceritaku tentang Rivan. Ia tau semua bagaimana perasaanku. Bahkan aku mengajaknya untuk bertemu dengan Rivan agar Athisa tau mengapa aku sangat menyukai Rivan. Tanggal 24 desember 2010 Rivan membuatku terkejut dengan kata-katanya. Tak dapat ku percaya, ternyata benar apa yang Athisa katakan. Rivan sangat menyukaiku. Tapi Rivan tau kalau ia tak dapat memilikiku. Kami putuskan untuk terus berteman. Aku, Athisa dan Rivan menjadi sangat dekat. Aku senang kami bisa sangat akrab. Sedikit pun tak ada rasa curiga dan cemburu meski ku tau mereka sering berkirim sms. Tapi satu yang tak dapat ku terima dan ku sangka. Rivan menjeput Athisa pulang kerja. Dan mereka pergi ke suatu tempat makan di daerah cimbeuluit . Apa yang terjadi? Kenapa mereka pergi kesana bersama tanpa aku? Baru aku tau. Ternyata Athisa pun menyukai Rivan. Bagaimana mungkin Athisa bisa menyukainya? Sejak kapan? Kenapa ia tega melakukan itu padaku? Athisa tau bagaimana perasaanku terhadap Rivan. Jadi apa yang dia lakukan sekarang? Apa ia mencoba mengkhianatiku? Tolong jangan rebut dia dariku. Berjuta pertanyaan terlontar di kepalaku. Sakit. Benar-banar sakit hati ini. Dan sakit ini semakin menjadi setelah ku tau bahwa Rivan pun menyukai Athisa. Ya Tuhan, kenapa bisa begini?

Sejak aku dan Athisa bersahabat, belum pernah kami bermasalah. Tapi kali ini aku rasa kami sedang mengalami masalah itu. Meski aku tak bisa terima, meski hatiku sakit, tapi aku tak bisa marah pada Athisa. Biar bagaimanapun Athisa memiliki hak untuk perasaanya, begitupun dengan Rivan. Aku tak bisa menyalahkan mereka berdua. Sakit memang. Tapi apa yang bisa ku perbuat? Rivan bukan siapa-siapaku,dan aku pun masih bersama William. Butuh waktu 3 hari untuk aku berpikir. Dan dalam waktu 3 hari itulah aku mengambil keputusan untuk melupakan Rivan selamanya. Ku pikir ini adalah cara yang terbaik. Hubunganku dengan Athisa tetap baik, meski terkadang muncul sedikit rasa kecewa terhadapnya. Aku harap semua akan segera kembali seperti semula. Masalah ini membuatku sangat terganggu. Dan aku tak bisa menahan tangis. Aku masih tak bisa berpikir jernih. William yang tak bisa mengerti keadaanku saat itu membuatku marah. Biasanya William tak pernah semarah itu. Tapi ternyata aku salah. William marah dan berkata tak mau lagi bertemu denganku. Saat itu aku tidak tau harus bagaimana. Persaanku kacau! Benar-benar kacau! Tanggal 14 februari 2011 yang seharusnya menjadi hari penuh cinta, kini menjadi hari putus cinta untukku. Akhirnya aku dan William putus setelah 3 tahun 2 bulan bersama. Kau tau bagaimana persaanku saat ini? Sungguh sangat menyakitkan. Aku kecewa dengan sahabatku, aku jadi semakin menjauh dari orang yang ku suka, dan aku berpisah dengan William. Apa kau pikir ini tidak menyakitkan untukku?


END//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar