Namaku Anastasia. Aku lahir di Lampung 13 Mei 1968. Keluargaku bukan berasal dari keluarga berada. Meski ayahku adalah seorang tentara, tapi bisa dibilang kami di tinggal di tempat yang tidak layak. Kami hanya tinggal di asrama kecil, tidak ada ruang tamu, tidak ada dapur, dan tidak ada kamar mandi. Tempat tinggal kami hanyalah sebuah ruangan yang agak memanjang, jadi kami hanya bisa menyekatnya dengan tripleks sebagai pembatas ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Sedangkan kamar mandi, kami harus turun ke bawah. Dimana semua orang berkumpul untuk mengambil air untuk memasak, mandi, dan buang air besar/kecil, kami menyebutnya bak bawah.
Seperti yang ku bilang tadi, ayahku adalah seorang tentara. Tapi ia hanyalah seorang tentara musik. Hanya sebagai tentara berpangkat rendahan. Ia bertugas sebagai pemain trompet. Mungkin ayahku bukan lah sosok ayah yang gagah dan menomer satukan anak. Ayah lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya dan perempuan lain. Meski begitu, ayah cukup bertanggung jawab. Ia mau membanting tulang demi keluarganya. Sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, sekaligus istri dari seorang tentara musik. Ibuku sangat cerewet dan pemarah. Entah itu sifatnya sejak lahir, atau sebagai pelampias karena sifat ayah yang sering bermain perempuan.
13 September 1969, adikku Amelia lahir. Saat itu seingatku ia adalah adik perempuanku yang sangat manis. Aku senang mempunyai saudara perempuan. Begitupun ayah dan ibu. Mereka bahagia, karena kami mendapat satu lagi anggota keluarga baru. Aku tidak begitu ingat dengan detail. Tapi saat usiaku beranjak 3 tahun, tiba-tiba ibu menyerahkanku kepada nenek untuk mengurusku. Entah apa maksud ibu melakukan itu. Apa aku sudah membuat ibu marah karena aku nakal? Apa ibu tidak menginginkan aku? Apa ibu merasa repot karena harus mengurus adikku?
Akhirnya aku dibawa nenek ke tempat tinggalnya di Sekampung, Metro. Aku tinggal bersama dengan kakek dan nenekku disana. Sesekali paman dan bibiku datang berkunjung dan membawa anak mereka untuk menemaniku bermain bersama. Sudah hampir 4 tahun aku dibesarkan oleh kakek-nenek. Dan selama itu pula aku berpisah dengan ayah, ibu, dan adikku. Aku belum pernah melihatmereka lagi. Entah apa yang terjadi, tapi ibu tak kunjung datang untuk melihat atau menjemputku pulang. Apa mereka tak menginginkanku pulang? Padahal selama berpisah dengan mereka aku berusaha tumbuh menjadi anak yang baik dan penurut. Aku selalu bersikap manis pada orang yang lebih tua. Aku juga tidak nakal, meski aku masih kecil dan belum bisa membantu nenek, tapi aku selalu menemani nenek berjualan di pasar. Walau harus berjalan jauh dan berangkat pukul 4 subuh, aku selalu semangat melakukannya demi nenek. Tak jarang aku berangkat dengan mata tertutup dan tersantuk batu.
Waktu semakin lama semakin berlalu. Akhirnya usiaku menginjak 9 tahun. Aku sudah tidak pernah berpikir lagi untuk pulang. Aku ingin tinggal bersama kakek-nenek hingga aku dewasa nanti. Aku selalu rajin berangkat sekolah usai menemani nenek berjualan di pasar. Aku hanya ingin menjadi anak yang pintar dan membuat kakek-nenek bangga padaku. Tapi ternyata keinginanku tidak bisa terwujud karena nenek mengembalikanku pada ibuku. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Senang? Atau sedih? Aku sudah terbiasa tinggal bersama kakek-nenek. Bagaimana dengan adik perempuanku? Apa ia seorang adik perempuan yang manis atau nakal? Mengapa nenek melakukan itu? Apa aku sudah membuat nenek marah dan kecewa? Apa kesalahan yang telah ku perbuat?
Akhirnya aku kembali ke rumah. Aku merasa sangat asing di rumah bersama dengan keluarga yang tak pernah ku temui selama 6 tahun ini. Berulang kali aku menatap langit. Aku ingin kembali ke rumah nenek. Tapi aku tidak tau jalan mana yang harus ku tempuh untuk bisa kembali kesana. Setiap hari aku hanya bisa menangis sambil menatap langit mengingat kakek-nenek. Rasanya aku ingin berlari kesana tidak peduli dengan ayah dan ibu. Keinginan itu semakin hari semakin kuat. Aku tidak ingin tinggal bersama ayah dan ibu. Ibu sering memarahiku, bahkan menyiksaku. Dan kemarahan ibu akan semakin menjadi setiap ibu tau ayah sedang bermain wanita. Aku hanya bisa menangis dan menjerit saat ibu menyiksaku. Tapi anehnya setiap ibu marah, ibu hanya kasar padaku. Ibu tidak pernah bersikap kasar pada Amelia. Ibu sangat menyayanginya dan memanjakannya. Kenapa ibu bersikap seperti itu? Apa ibu tidak sayang padaku?
Aku tumbuh besar seraya waktu berlalu. Aku menginjak bangku SMP, dan SMA. Selama itu pula ibu masih sering menyiksaku. Tak jarang ibu memaki-makiku di depan banyak orang. Meski hanya kesalahan kecil yang ku lakukan, tapi ibu akan membentakku habis-habisan. Pernah aku berpikir kalau aku adalah anak tiri. Karena selama ini hanya aku saja yang diperlakukan kasar. Sedangkan Amelia diperlakukan sangat baik. Tidak jarang aku tidak diberi makan. Bajuku pun sudah kusam dan robek, berbeda dengan Amelia yang sering di belikan baju dan makanan enak. Untungnya Amelia baik padaku. Ia sering memberiku makanan tanpa sepengetahuan ibu. Karena kalau ibu tau, ibu akan memarahiku dan menuduhku mencuri makanan adikku. Amelia juga sering memberi baju. Ibu sempat tau pakaian yang ku kenakan adalah pakaian milik Amelia, tapi ia bilang pada ibu kalau ia tidak suka baju itu, jadi ia meberikan itu padaku, padahal itu hanya alasan saja. Kami memang selalu kompak. Meski ibu sering memarahiku, tapi adikku yang membantuku saat aku kesulitan.
Aku tau kekompakan ini akan berakhir saat salah satu dari kami menikah nanti. Dan itu terbukti. Amelia menikah lebih dulu. Setelah lulus SMA, ia memilih untuk langsung menikah. Sedangkan aku melanjutkan kuliahku S1. Tanpa Amelia di rumah membuat keadaan sangat sepi. Tidak ada lagi orang yang bisa membuatku tertawa saat di rumah. Sifat ibu yang pemarah pun tidak kunjung berubah. Tak jarang aku puasa karena tidak ada makanan apapun di rumah. Sebenarnya bukan tidak mampu membeli, tapi ibu sengaja tidak memberiku makan. Jujur saja, dari dulu aku bingung kenapa ibu tidak suka padaku. Semakin aku besar, ibu semakin menganggapku sebagai musuhnya. Bukankah aneh kalau seorang ibu memperlakukan anaknya sebagai seorang musuh? Apa yang membuat ibu begitu bencinya padaku? Sering kali ibu membanting barang bila aku melakukan kesalahan kecil. Saat ini ibu memang tidak menyiksaku seperti saat aku masih kecil dulu. Sekarang ibu hanya melempar barang dan memaki-maki saja. Tapi tetap saja itu membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku juga ingin segera keluar dari rumah ini. Aku sudah tidak tahan lagi.
Saat perasaan itu semakin berkecamuk di hatiku, aku bertemu dengan Andreas. Kami bertemu pertama kali di bioskop, saat itu aku sedang bekerja paruh waktu sebagai penjual tiket dan Andreas membeli tiket untuk menonton film. Tanpa ku kira, Andreas menungguku pulang kerja. Ia sengaja mengajak berkenalan. Dari situ kami mulai berteman. Kami jarang bertemu, karena Andreas harus pulang pergi ke Magelang menyelesaikan studinya di AKABRI. Namun untuk menyelesaikan tugas akhirnya, Andreas harus berangkat ke Amerika. Tapi sebelum ia berangkat ke Amerika, Andreas melamarku. Aku menerimanya, dan kami menikah terlebih dulu. Setelah kami menikah, ia pergi untuk menyelesaikan studi akhirnya selama satu tahun, sementara aku menyelesaikan skripsi akhirku.
Andreas sudah menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia. Lalu ia menjemputku, dan membawaku untuk tinggal bersama. Setelah menunggu 1 tahun dari pernikahanku dengannya, akhirnya aku menjadi seorang ibu. Aku memiliki 3 anak dari pernikahanku dengan Andreas. Anak kami yang pertama lahir. Kami memberi nama Stefanus Dhito Septheano padanya, ia sangat lucu dan gembul. Matanya sipit seperti mata kakeknya. Selang 1 tahun, anak kami yang kedua lahir. Namanya Stefanie Gladya Dhita Amanda, ia manis sekali dan wajahnya persis sekali dengan ayahnya. Sebenarnya aku berharap anak perempuanku ini memiliki wajah sepertiku, tapi itu bukan masalah. Lalu anak kami yang terakhir seorang laki-laki yang sangat tampan. Matheus Aldo Ryantheano namanya, berbeda dari kakak-kakaknya. Kali ini wajahnya mirip denganku. Beberapa kenangan pahit yang dulu ku alami saat masih kecil membuatku menjadi ibu yang sangat peduli dengan anak-anakku. AKu tidak mau hal yang terjad padaku dulu terulang dan terjadi pada mereka. Aku menyayangi mereka sepenuh hatiku. Akan ku jaga mereka meski harus ku korbankan nyawaku demi mereka.
True Story.......
True Story.......
END//

Tidak ada komentar:
Posting Komentar