Namaku Gilang. Aku mempunyai kisah cinta yang tak akan pernah bisa ku lupa. Kejadian ini terjadi sekitar 9 tahun yang lalu. Saat akhirnya ku tau bahwa aku tak akan pernah bisa memilikinya. Awal pertemuanku dengan Viona adalah saat kita duduk di bangku SMA. Kami menjadi teman sekelas di kelas 1. Viona adalah gadis yang sangat menarik. Ia manis, pintar, baik, lembut, dan sopan. Ia selalu membawa keceriaan bagi teman-teman di sekitarnya. Aku mulai tertarik padanya di pertengahan semester kelas 1. Saat itu kami bearada di dalam satu kelompok. Meski di kelas banyak perempuan yang mungkin lebih cantik di banding dia. Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan di banding dia. Dia unik. Aku suka cara ia tersenyum, cara ia berbicara, cara ia bercanda, dan yang paling ku suka adalah cara ia berpikir. Tidak banyak perempuan yang bisa berpikir cerdas seperti dia. Dia berbeda. Dia tidak seperti kebanyakan perempuan lain yang kutemui. Semuanya penuh kelembutan, dia tidak pernah berpikir buruk tentang seseorang. Dia juga selalu mau menjadi problem solver untuk teman-temannya. Dia tidak sombong meski ia selalu mendapat juara 1 dan selalu mengikuti berbagai olimpiade. Dia terlihat sangat sempurna di mataku.
Kesempurnaan itulah yang membuatku ingin memilikinya. Aku mulai memperhatikannya. Dan yang sangat ku tau, dia perempuan yang sulit di dekati oleh laki-laki. Bukan karena sombong atau jutek, tapi karena semua laki-laki yang dekat padanya hanya ia anggap sebagai teman dan tidak lebih. Aku tau mungkin ini akan sulit, karena itu aku harus berusaha. Awalnya aku mendekatinya sebagai teman, lalu aku menjadikannya sebagai sahabat. Hampir 3 bulan kami bersahabat, dan selama itu pula aku memberinya tanda kalau aku menyukainya. Tapi benar, ternyata ia bukan perempuan yang mudah di dapatkan hatinya. Ia sama sekali tidak meresponku. Ia hanya menganggapku benar-benar sebagai sahabatnya. Aku yang tidak ingin lama-lama menjadi sahabatnya, akhirnya aku memberanikan diri untuk menembaknya. Ku pikir ini akan berhasil. Tapi ternyata perkiraanku meleset. Tanpa pikir-pikir panjang, dia langusng menolakku. Aku yang kecewa dengan jawabannya tidak putus asa. Justru aku semakin ingin menjadi pacarnya. Selama 2 bulan aku gencar PDKT dengannya. Dank akhirnya, terbalas sudah perasaanku padanya. Kami pun berpacaran.
Menyenangkan mempunyai seorang kekasih sepertinya. Aku benar-benar tergila-gila padanya. Ia sangat perhatian dan pengertian. Bahkan ia tak pernah sedikitpun marah atau menuntut ini-itu padaku. Ia selalu mau mendengar alasanku sambil tersenyum manis. Pernah aku sedikit iseng padanya, aku ingin melihat ia marah walau hanya sekali, tapi aku tidak berhasil, saat itu dengan lembut ia hanya berkata,
"Tidak masalah, aku tau kamu harus melakukan yang terbaik agar semuanya lancar. Tidak usah pedulikan aku, selesaikan saja urusanmu dulu. Aku akan menunggumu disini. Good luck ya, love you."
Lalu bersama temanku aku meninggalkan dia, saat itu memang ada urusan organisasi yang harus ku selesaikan, tapi sebenarnya tidak selama itu. Aku hanya ingin mengetesnya saja. Aku menyuruhnya menunggu, dan aku berjanji akan mengantarnya pulang ke rumah. Selama 6 jam ia ku biarkan menunggu sendirian di sekolah. Ku pikir ia akan cemberut atau ngambek bahkan marah-marah, tapi ternyata lagi-lagi sambil tersenyum ia bilang,
"Sudah selesai? Kamu nggak cape? Padahal aku bisa pulang sendiri, harusnya kamu nggak usah jemput aku. Lebih baik kamu istirahat, besok kan masih harus sekolah."
Wow! Bagaimana aku tidak terkejut mendengar jawabannya. Sedikitpun ia tidak marah, bahkan ia mengkhawatirkan aku. Padahal dari wajahnya aku tau ia sangat kelelahan menungguku selama itu sendirian. Ya Tuhan, aku menyesal membuatnya begini. Akan ku jaga ia dengan sepenuh hatiku. Aku berjanji untuk tidak menyakitinya. Aku bersyukur memilikinya.
Selama 4 tahun kami berpacaran. Sekarang kami sudah menduduki bangku perkuliahan. Aku mengambil jurusan Grapich Design karena aku suka dengan seni, aku tidak suka hal-hal yang memusingkan. Menurutku seni adalah kesenangan tersendiri. Sedangkan Viona mengambil jurusan Public Relation (PR) karena ia pintar berbicara dan wawasannya sangat luas. Meski berbeda jadwal karena jurusan kami berbeda, tapi kami masih menyempatkan waktu untuk bersama. Aku mungkin bukan seorang yang jenius, tapi aku akui kalau aku kreatif. Dosen pun berkata seperti itu. Lalu di tahun kedua aku mendapatkan kesempatan beasiswa ke Italy atas kekereatifanku. Sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kuliahku di Italy, tapi di lain pihak aku tidak ingin mengambilnya karena aku tidak ingin berpisah dengan Viona. Aku ingin berada di dekatnya. Tapi ia sama sekali tidak melarangku pergi. Justru ia berkata,
"Apapun yang kamu putuskan, aku akan menerimanya dengan senang hati. Karena apapun itu, kamu pasti memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Ini mungkin kesempatanmu untuk menjadi sukses dengan bakat yang kamu punya. Jangan jadikan aku sebagai alasanmu untuk tetap disini."
Aku sempat bingung mengapa Viona tidak melarangku? Selama ini juga ia tidak pernah marah ataupun cemburu padaku. Apa ia punya laki-laki lain? Jujur saja aku sempat mencurigai Viona. Dan seharusnya ku buang jauh-jauh pikiran itu.
Mendekati hari batas keputusan beasiswaku, aku yang sedang jalan-jalan dengan teman-teman di suatu mall tanpa sengaja melihat Viona sedang berduaan masuk ke cafe dengan laki-laki lain. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan laki-laki itu merangkul pundak Viona. Aku kesal melihatnya, aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Rasanya ingin ku pukul wajah laki-laki itu, tapi tidak ku lakukan. Aku hanya pergi ke rumah dosen yang merekomendasikan beasiswaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyetujui beasiswa itu. Aku tau saat itu aku sangat emosi. Aku tidak bisa berpikir jernih, aku hanya bisa berpikir kalau ternyata selama ini benar. Itulah mengapa Viona tidak melarangku pergi dan tidak perah cemburu sedikitpun padaku. Semua karena ia punya laki-laki lain. Entah mengapa aku menjadi seperti seorang anak kecil. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Di kampus pun aku selalu menghindarinya, aku juga sengaja menganti nomorHP ku. Aku tau Viona bingung dengan tingkahku yang seperti ini. Ia berusaha mendekatiku untuk mendapatkan jawaban yang tepat dari tingkahku ini. Tapi aku begitu kekanakan, aku menikmati kekhawatirannya. Bahkan aku sengaja dekat-dekat dengan perempuan lain untuk membuatnya cemburu. Aku tau ini jahat karena dengan begini aku akan sangat menyakiti perasaannya. Hampir sebulan aku tidak berbicara dengannya. Aku begitu keras kepalanya hingga tidak mau mendengar penjelasannya.
Akhirnya hari keberangkatanku tiba. Teman-teman melepas kepergianku dengan mengantarku ke bandara, karena selama 3 tahun aku tidak bisa kembali ke Indonesia. Sebenarnya sih bisa saja, tapi itu akan membuatku belajar selama 4-5 tahun disana, sedangkan aku mengejar program Reguler agar bisa lulus lebih cepat dan langsung bekerja. Diantara teman-temanku, ku lihat Viona pun ada disana. Aku tau sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi sampai detik terakhirpun aku hanya besikap sok cuek di depannya dan menghindarinya. Lalu entah apa yang membuatnya begitu, mungkinkah karena melihat tingkahku yang sangat menyakiti hatinya atau karena aku akan pergi jauh dalam waktu yang lama? Aku melihat Viona tak kuasa meneteskan airmatanya. Aku sempat tersentak kaget dan merasa sangat bersalah padanya. Aku seperti laki-laki bodoh yang sudah menyakiti hati perempuan yang sangat aku cintai selama ini. Selama kami berpacaran, baru kali ini aku melihat dia menangis. Sepertinya yang ku lakukan sudah di luar batas hingga menyakitinya seperti ini. Sambil memikirkan itu rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan memeluknya, tapi saat ku ingat kejadian di cafe itu aku mengurungkan niatku dan pergi begitu saja.
Sesampainya aku di Italy, aku langsung menuju ke asrama dan ke kampus untuk mengurus jadwal perkuliahanku di tempat ini. Selama di perjalanan aku terus berpikir tentang Viona. Aku sayang padanya, tapi aku merasa telah dikhianati olehnya, dan aku tak bisa memaafkannya begitu saja. Kadang aku merasa begitu membencinya, tapi aku juga merasa sangat mencintainya. Sekarang inilah keputusanku, jadi aku akan bersungguh-sungguh disini. Aku harus fokus dengan tujuanku. Aku di beri waktu 2 hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi sebelum aku mulai kuliah. Sebelum aku berkelling untuk melihat-lihat kampus baruku, aku hendak merapihkan pakaianku ke dalam lemari, dan tanpa sengaja aku menemukan sepucuk surat di tasku. Entah surat siapa ini. Setelah ku buka, ternyata ini surat dari Viona. Sejak kapan? Kapan ia memasukan surat ini? Saat di bandara? Bagaimana mungkin, dia bahkan tidak berhasil mendekatiku. Atau dia meminta seseorang menyelipkan ini di tas ku?
Gilang...
Awalnya aku bingung kenapa tiba-tiba tingkah kamu berubah seperti itu? Aku nggak tau kenapa kamu ngejauhin aku. Kamu nggak mau bicara ataupun dengerin aku ngomong. Kamu terus menghindar. Seolah kamu benci sama aku. Aku nggak tau kesalahan apa yang udah aku lakuin sama kamu sampai kamu bisa bersikap dingin sama aku. Kamu bahkan ganti nomorHP. Sebenarnya aku udah tau nomorHP kamu yang baru dari temen, tapi aku sengaja nggak ngehubungin kamu karena aku tau alasan kamu ganti nomorHP tuh karena nggak mau diganggu sama aku. Aku mau kamu sendiri yang ngasih nomorHP kamu ke aku. Jujur aja, aku pengen banget nanya sama kamu "kenapa kamu jadi gini? Apa kamu bosan dengan hubungan kita? Atau kamu punya pacar lain?" Karena aku liat kamu sering jalan sama perempuan. Tapi aku urungin niat aku, aku nggak akan nanya, aku pengen kamu sendiri yang bilang sama aku. Aku selalu nunggu penjelasan dari kamu. Aku nggak mau berpikir macem-macem. Tapi kamu tetep nggak mau bilang dan semakin menjauh. Akhirnya ada salah satu temen kamu yang ngasih tau aku kenapa kamu jadi kayak gini. Malam itu kamu liat aku sama laki-laki. Kamu jadi emosi banget dan memutusin untuk menjauh dari aku dan pergi ke Italy. Saat itu... Kenapa kamu nggak nanya sama aku? Kenapa kamu bisa semarah itu? Gilang, laki-laki itu bukan siapa-siapa. Dia sepupu aku yang dateng dari malang, usianya juga jauh lebih muda dari kita, cuma badannya aja yang tinggi. Lagipula kami nggak pergi berdua, keluarga aku ada di cafe itu juga. Aku sama sekali nggak nyangka kamu bisa semarah itu sama aku. Ini cuma salah paham biasa. Aku sayang kamu. Aku nggak mungkin main sama laki-laki lain. Tapi ternyata kamu belum bisa percaya sama aku seutuhnya. Kalau kamu pengen kita pisah kayak gini nggak masalah kok. Aku bakal berusaha ngertiin keinginan kamu walau kamu udah ngehancurin perasaan aku. Makasih buat tahun-tahun yang menyenangkan selama ini. Maafin kalau selama ini aku banyak nyusahin. Walau kita nggak putus secara baik-baik, tapi aku turut bahagia atas kesuksesan kamu. Semoga kamu berhasil disana.
Viona....
Jadi aku hanya salah paham? Apa yang telah kulakukan? Ya Tuhan, bodohnya aku! Kenapa aku bisa begitu marah? Kenapa aku tidak mempercayai kekasihku sendiri? Maafkan aku Viona. Aku tidak bermaksud melukaimu, tapi itulah yang ku lakukan. Aku terlalu bodoh untuk membuatmu terluka. Meski saat ini aku menangis dan berteriak sekuat tenaga, ini tidak akan merubah apapun. Aku sudah menghapus nomor Viona dari HP ku, aku bahkan tidak bisa mendapatkan nomornya dari teman-teman. Aku menyesal. Sangat menyesal. Aku ingin memutar waktu kembali. Tapi itu mustahil. Aku harus menerima apa yang telah ku lakukan. Aku putus dengan Viona hanya karena kesalah pahaman kecil ini. Memalukan. Ini sungguh konyol! Cinta yang begitu besar musnah begitu saja hanya karena hal seperti itu? Benar-benar tidak masuk akal. Aku tidak bisa memaafkan perbuatanku. Aku tau, pasti Viona sangat menderita. Aku tau hati Viona terluka. Aku bahkan membuatnya menangis. Jangankan usapan airmata, senyuman pun tak ku berikan padanya. Yang ku berikan padanya hanya sesuatu yang tak termaafkan. Aku mencurigainya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Padalah selama ini dia selalu mau mendengar penjelasanku dan mengerti aku. Tapi aku? Apa yang ku lakukan? Kebodohan...
Saat itu aku tau aku tidak bisa berbuat apapun. Aku berniat segera pulang ke Indonesia dengan cara menyelesaikan kuliahku secepat mungkin. Aku akan kembali dan meminta maaf pada Viona, karena ku sadari kalau aku memang sangat mencintainya dan aku menyesal. Sangat menyesal. Entah ia mau memaafkan aku atau tidak, aku akan berusaha. Aku berjanji tidak akan menakitinya untuk yang kedua kalinya. Aku akan mempercayainya. Aku ingin kembali padanya. Sepulang aku dari Italy, aku akan langsung melamarnya. Aku akan membuat surprise untuknya. Aku akan membawa buket mawar merah kesukaannya. Jadi saat ini aku harus fokus agar kuliahku bisa cepat selesai dan mendapatkan pekerjaan. Motivasiku disini adalah Viona. Aku terus memikirkannya. Dan aku berharap dia mau memaafkanku dan menerimaku kembali.
Akhirnya Kuliahku selesai. 3 tahun sudah aku disini. Saatnya aku kembali ke Indonesia. Dan melamar Viona. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Selama ... jam di pesawat, akhirnya aku tiba di bandara soekarnohatta. Saat itu pukul 11 siang aku sudah tiba di jakarta. Tanpa pulang dulu ke rumah, aku naik taxi pergi ke tempat penjual bunga dan ke toko emas. Aku membelikannya 1 buket bunga mawar ukuran besar dan 1 buah cincin emas dengan berlian sebagai tanda cintaku padanya. Meski sudah 3 tahun lebih kami tidak berhubungan, aku harap perasaannya padaku belum berubah. Sama seperti perasaanku padanya. Aku sedikit takut, karena 3 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuat keadaan tetap sama dari sebelumnya. Entah karena aku yang merasa gugup, atau memang aku memiliki bad feeling. Saat tiba di rumahnya, disana terlihat sepi sekali. Apa dia sudah pindah pikirku. Aku suruh taxi menungguku di depan, sementara aku berlari kedepan pintu rumahnya. Ternyata Bi Nani (pembantu Viona) yang membuka pintu.
"Apa kabar bi? Kok sepi? Viona mana?"
"Eeeeeehh, mas Gilang. Loh? Mas g tau to kalau hari ini resepsi pernikahannya mbak Vio?"
"Apa?!! Me..menikah?! Sekarang? Jangan bercanda bi. Sama siapa? Dimana resepsinya?"
"Ya bener lah mas. Menikahnya sama mas David di Eullogia Resort Hotel."
"Oke, makasih bi."
Menikah? Mana mungkin? Bagaimana dengan aku? Kenapa tidak ada yang memberitahukan aku? Langsung saja aku menyuruh taxi pergi kesana. Dan ternyata benar, sebuah resepsi pernikahan sedang berlangsung. David & Viona, tulisan itu terpampang sangat jelas di depan pintu masuk. Aku turun dari taxi, dan melangkah masuk ke dalam untuk memastikan. Saat itu hatiku sangat terguncang dan hancur berkeping-keping. Aku masih berharap kalau ini hanya mimpi. Sampai akhirnya tak dapat ku tahan lagi airmata ini. Aku melihat seorang perempuan manis yang ku kenal itu berbalut baju pengantin berwarna putih dengan memancarkan senyum yang sangat bahagia bersanding dengan laki-laki yang tidak ku kenal di pelaminan. Remuk jantung ini tak bersisa. Aku tak percaya ini sungguh terjadi. Sakitnya aku melihat kau berciuman dengannya di depanku. Kenapa kau tidak memberiku kesempatan? Aku tau dulu aku yang salah karena telah menyakitimu, tapi tak bisa kah ini hanya sebuah mimpi? Aku tak kuasa menahan tangis. Jadi aku keluar dan pergi dari sana. Maaafkan aku tak bisa memberi ucapan selamat padamu. Tapi aku turut bahagia kalau memang inilah kebahagiaanmu. Biarlah aku membawa dan menyimpan rasa cinta ini di hatiku seorang. Walau kau sudah menjadi miliknya, but I STILL LOVING YOU Viona. Lalu setelah tinggal seminggu di Indonesia, aku kembali ke Italy untuk bekerja dan tinggal disana. Dan disinilah aku berada sekarang. Menulis kisah cinta yang tak sempurna sambil memandang foto kita berdua dulu.
END//

Tidak ada komentar:
Posting Komentar