Kamis, 25 Agustus 2011

"Yang Terlupakan"


Aku takut saat - saat ini akan tiba. Entah berapa lama lagi hal ini akan terus berlangsung. Dan entah berapa lama lagi aku masih bisa mengingatmu.  Karena saat ini aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku bertemu denganmu. 1 tahun yang lalu? Ataukah 2 tahun yang lalu? Hanya sedikit sisa kenangan yang ku miliki tentangmu. Meski aku tak mau, tapi kenangan itu semakin lama semakin terkikis. Membuatku lupa akan sosok dirimu. Aku tau cepat atau lambat hal ini akan terjadi padaku. Itu sebabnya aku menulis surat ini untukmu.

Mungkin saat kau membaca suratku ini aku sudah tidak mengingatmu lagi. Setiap aku berpikir bahwa aku akan melupakan dirimu, aku menjadi sangat takut. Aku takut saat aku harus menutup mata di malam hari. Karena setiap aku membuka mataku di pagi hari, sedikit demi sedikit kenangan tentangmu mulai menghilang. Setiap jam, menit, detik, aku berusaha untuk terus memikirkanmu. Begitu takutnya aku, hingga seluruh isi kamarku semua berisi tentangmu. Aku menghiasi dindingku dengan menempelkan foto-fotomu yang ku ambil setiap hari tanpa sepengetahuanmu.

Semua bermula dari hari pertama kita masuk di bangku SMA. Pertama kali aku melihatmu, kau duduk tepat di pinggir jendela. Entah apa yang sedang kau pikirkan, namun wajahmu menunjukan bahwa kau sedang risau. Kau terus menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Seolah jiwamu berada di suatu tempat yang jauh dan membuatmu tidak ingin berada di sini. Satu hal yang membuatku begitu tertarik padamu. Kau jelas bukan seperti anak laki-laki lainnya. kau berbeda. Kau terlihat sangat lembut. Aku memang tidak pernah punya keberanian untuk mengajakmu berbicara. Yang dapat ku lakukan hanya memandangmu dari jauh. Kau bahkan tak pernah menyadari keberadaan diriku.

Kau sangat pandai dalam pelajaran. Bahkan semua guru memujimu. Tak heran banyak orang yang peduli di sekelilingmu. Aku pun begitu, aku peduli padamu. Tapi aku hanya lalat kecil yang tak pantas berada di sekitar kebun bunga. Itu bukan tempat untukku berada. Apa mungkin lalat kecil sepertiku bisa bersanding dengan kupu-kupu yang indah sepertimu?

Suatu hari aku melihatmu di luar sekolah, saat itu kau sedang duduk di perpustakaan kota. Kau tampak serius membaca buku novel misteri karya....... Aku terus memandangimu. Aku bahkan tau kau tertidur setelah membacanya. Tapi aku bingung, mengapa seorang yang jenius sepertimu menyukai novel bertema misteri? Bukankah itu seharusnya buku-buku pengetahuan seperti ensyclopedia? Aku selalu ingin tau tentangmu. Aku mencoba memperhatikanmu. Dan hari ini aku mendapatkan 1 hal lagi yang ku ketahui tentangmu.

Aku sadar diriku yang seperti ini hanya akan membuatku terlihat seperti seorang pengungtit. Sebenarnya aku takut kau akan menghindar bila kau tau apa yang selama ini ku lakukan. Maka aku berniat untuk mengajakmu bicara. Saat itu aku berniat menyapamu pulang sekolah. Kau Kebagian tugas piket di hari itu, jadi ku tunggu kau di depan pintu gerbang sekolah. Mungkin sudah sekitar 30 menit aku berdiri menunggu. Dan dengan tiba - tiba aku terjatuh pingsan. Seseorang segera membawaku ke rumah sakit.

Aku tak sempat menyapamu di hari itu. Karena saat aku terbangun, ternyata aku sudah 3 hari tertidur di rumah sakit. Ibu dan ayah begitu mengkhawatirkanku. Aku sudah boleh pulang ke rumah, meski dokter belum begitu mengetahui jenis penyakitku. Ku pikir hal ini tidak akan terjadi lagi. Tapi aku jadi semakin sering pingsan bila terlalu sering berdiri. Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata dokter memvonis bahwa aku mengidap tumor otak. Kemungkinan terburuk aku bisa meninggal, dan dokter bilang bahwa semakin lama ingatanku tentang seseorang atau sesuatau akan semakin berkurang, bahkan aku bisa hilang ingatan total. Maka aku di anjurkan untuk mengikuti terapis meski dokter tidak bisa menjamin aku akan sembuh.

Mengikuti terapis? Untuk apa kalau memang tidak dapat memastikan aku dapat sembuh kembali? Aku memutuskan untuk tetap bersekolah seperti biasa. Teman-teman sengaja tidak ku beritahukan, hanya guru-guru di sekolah saja yang tau. Saat itu aku benar-benar merasa takut kalau harus melupakanmu. Dan dari situ aku mulai menjadi seperti penguntit. Aku mulai mengambil fotomu diam-diam dengan kameraku. Entah berapa banyak foto yang telah ku ambil.

Hari ini adalah kenaikan kelas. Tidak seperti kelas 1, sekarang kita berbeda kelas. Aku sedikit kecewa, tapi itu tidak membuatku berhenti memperhatikanmu. Namun penyakit ini semakin lama semakin memburuk. Sering kali aku mengeluarkan darah dari hidung. Dan itu cukup lama, sehingga aku mengalami kekurangan darah. Dokter dan orang tuaku menyuruhku untuk mengambil home school, tapi aku tidak mau. Aku bersikeras ingin pergi sekolah, di mana aku bisa memandangmu. Aku tau, mungkin aku tidak bisa mencegah agar aku tidak hilang ingatan. Tapi paling tidak, aku ingin mengabadikan kenangan yang tidak ingin ku lupakan begitu saja.

Namun usahaku tidak cukup berhasil melawan penyakitku ini. Meski sekuat tenaga aku ingin sekolah, tapi aku tidak mampu menggerakan badanku. Aku tidak punya tenaga untuk menggerakannya. Situasi ini membawaku untuk dirawat di rumah sakit. Mungkin sudah 8 bulan lebih aku keluar masuk rumah sakit. Hingga akhirnya aku harus benar - benar dirawat total di rimah sakit. Aku sudah tidak ada pilihan lain. Mungkin saat ini aku memang tidak bisa melihatmu menjadi siswa kelas 3. Tapi selama 2 tahun ini aku mengumpulkan semua foto-fotomu.

Aku hanya bisa memandangimu dari foto. Berharap aku bisa bertemu denganmu. Tapi aku yakin itu tidak akan mungkin terjadi. Karena aku merasa bahwa aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Semua ingatanmu yang tersimpan di otakku mungkin akan terhapus. Tapi ingatanku tentangmu yang ku tulis disini tidak akan terhapus. Kalau saja waktu itu aku punya keberanian, aku ingin sekali mengajakmu berbicara. Meski hanya sekali dan dalam waktu yang singkat. Seandainya saja hari itu aku tidak pingsan. Aku ingin bilang, kalau "AKU SANGAT MENYUKAIMU".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar